Laman

  • Home

Senin, 20 Juni 2016

10 Kesalahan Fatal Manajemen Skala UMKM, Benarkah Anda Seperti Ini ?

Tulisan dari Seta Pausa cukup menarik untuk direnungkan oleh para pengusaha UKM sebagai pertimbangan untuk lebih maju lagi. Dan kami hanya meneruskan tulisan Seta Pausa dari blog Logika-Hati.Com karena dari apa yang kami temui di lapangan memang hal-hal tersebut sering kami temui di lapangan.

Tujuan dari tulisan ini adalah untuk terus membimbing dan mengingatkan kesalahan-kesalahan yang terjadi pada teman-teman UMKM dalam mengelola usahanya. Bukan ada maksud lain seperti mendeskreditkan pihak-pihak tertentu. 

Jika di antara teman-teman UMKM sudah tidak melakukan kesalahan-kesalahan ini, maka kami cukup bangga sebagai pembinanya. 

10 Kesalahan Fatal Manajemen Skala UMKM
10 Kesalahan Fatal Manajeman Skala UMKM

1.    Meremehkan laporan keuangan

Padahal laporan keuangan yang sistematis amat membantu kita untuk mengevaluasi kinerja perusahaan. Lebih jauh pada saatnya nanti, seperti dikatakan oleh Ali Said, Ketua Hipmi, salah satu permasalahan UKM adalah ketiadaan laporan keuangan padahal ini dibutuhkan untuk syarat dalam peminjaman bank.
Dosa ini menyebabkan kita tidak menjadi bankable.

2.    Pelit dalam memberdayakan SDM-nya

Kita masih melihat banyak owner sebuah UKM tidak mau meluangkan waktunya untuk lebih memperhatikan serta melatih skill karyawannya. Lebih parah lagi jika hanya diberlakukan sistem gaji tanpa bonus.

Fasilitas pun menjadi hal yang penting untuk karyawan kita. Tanyakan apa yang dapat membuat mereka jenuh. Berdialoglah dengan karyawan kita. Karyawan juga berhak tahu seandainya kondisi kita sehingga terjadi saling pengertian dalam hal pemenuhan fasilitas.

Yang perlu diperhatikan adalah uang bukanlah sebagai pemicu utama pemberdayaan SDM.

3.    Tidak mau beralih ke computerize

Pengalaman saya, dengan computerize ini saya dapat mempunyai waktu luang yang lebih banyak. Computerize juga meminimalkan jumlah human error.

Jika kita belum computerize, kita harus segera beralih. Dalih budget udah basi.

4.    Hanya mengandalkan sedikit sumber

Dalam hal selling, saya sangat menghindari ketergantungan pada satu sumber, supplier maupun buyer. Untuk awalan, memang ada kalanya seperti itu.

Bargaining power kita akan lemah jika kita hanya mempunyai sedikit sumber. Padahal bargaining power adalah hal yang paling penting dalam tawar menawar.

5.    Tidak berani improvisasi dalam marketing

Berani tanpa perhitungan itu bodoh. Namun jika perhitungan sudah tepat masih tidak berani, itu namanya pengecut.

Marketing tidak harus mengeluarkan budget banyak. Hanya saja sering bagi pelaku UKM untuk memeras otak lebih keras. Bisnis tanpa marketing is bullshit.

6.    Yang penting murah

Betul harga memang penting. Tapi nilai tambah lebih penting saat ini. Temukan niche/celah market kita. Harga menyusul kemudian.

7.    Pelit terhadap konsumen

Yang gaji karyawan itu konsumen. Yang ngasih kita duit juga konsumen. Jadi kita mesti berikan something special untuk konsumen yang loyal pada kita.

Suatu hal yang sangat salah jika kita tidak memberikan gift kepada konsumen loyal.

8.    Gini aja cukup

Dalam bersyukur, kita memang mesti lihat ke bawah. Tapi dalam hal kompetisi bisnis, kita lihat ke atas.
Jika kita melihat ke bawah, kita akan berkata ‘oh, gini aja cukup kok. Toh saya sudah lebih baik dibanding pesaing di seberang sana’. Hal ini akan mematikan kreativitas.

Gak ada yang cukup dalam kompetisi bisnis. Inovasi, inovasi, inovasi…

9.    Sering menyalahkan minimnya anggaran

Ya iyalah…lha wong menyalahkan nasib. Minimnya anggaran sering menjadi kambing hitam. Ini sudah menjadi alasan klise.

Pertanyaannya adalah dengan biaya anggaran segini, dapat menghasilkan seberapa? Kalo minim ya dinaikkin. Gitu aja kok repot…

Kalau sudah mentok, carilah suntikan dana dari bank atau investor. Hal ini akan menyebabkan profit kita menipis pada awalnya. Di saat terdesak ketika kondisi bisnis kita payah, kita harus membuat keputusan untuk menutup bisnis kita atau meneruskan dengan kerja yang lebih keras lagi. Sejujurnya, hanya ada dua pilihan itu. Minim anggaran adalah alarm untuk memutuskan pilihan mana yang akan diambil dari kedua pilihan itu.

Namun harus diingat, alasan sebenernya adalah minim anggaran atau kita yang kurang keras memeras otak?

10.    Tidak ada legalitas usaha

Lagi pusing2nya mikirin profit yang turun, tiba-tiba pikiran dikacaukan lagi dengan adanya inspeksi mendadak dari instasi pemerintah atau dari polisi cari rejeki. Begitu tidak ada legalitas usaha, panjang deh tuh masalah.

Ujung2nya bisa bikin stress. Kalo kita sudah punya legalitas usaha, hidup jadi lebih tenang.
Ini sama aja dengan membawa STNK kendaraan pada saat pergi ke luar kota. Menghadirkan ketenangan.

Apalagi legalitas usaha juga merupakan syarat untuk meminjam duit di bank. Satu lagi, kalo kita ngaku pebisnis tapi gak bawa kartu NPWP kan gak keren juga.

Legalitas usaha membuat pergerakan bisnis kita lebih leluasa.

Nah, apakah teman-teman masih melakukan salah satu atau beberapa kesalahan di atas ? Yuk mari kita perbaiki bersama Rumah UMKM. Kami siap membantu.