Laman

  • Home

Selasa, 24 Mei 2016

Pedagang & Pemasar Online Juga Pelaku UMKM, Mengapa Mereka Kurang Diperhatikan ?



Bolehlah sekali ini kami menyuarakan nasib para pedagang dan pemasar online dalam rapat koordinasi dan sinkronisasi pelatihan bagi UMKM di Jawa Tengah yang digelar di Ruang Kerja Kepala Bidang Promosi dan Kerjasama BPMD Provinsi Jawa Tengah hari Selasa 24 Mei 2016. Mengingat dalam perjalanan pembinaan UMKM kami dengan instansi terkait, pedagang dan pemasar online seolah "tidak punya porsi" dalam pembinaan yang selama ini hanya fokus kepada UMKM produsen.
Potret Pedangan Kerajinan, Bukankah mereka juga pelaku UMKM ?

Pedagang (Pemasar) Online, Mereka juga berperan dalam pemasaran produk UMKM.


Bukankah sudah dipahami salah satu permasalahan utama UMKM adalah pemasaran ? Lantas mengapa justru pedagang dan pemasar onlne "tidak mendapatkan" porsi yang layak dalam pembinaan UMKM ?

Mengapa kami berani mengatakan ini ? Adalah karena pada kenyataannya kami "kurang merasa pas" melihat pelaku UMKM produsen diajari membuat website, toko online dan melakukan pemasaran sendiri sementara mereka seharusnya diperkenalkan dengan teknologi produksi terkini yang mampu meningkatkan kualitas dan kapasitas produksinya dengan harga yang kompetitif agar daya saingnya meningkat. Apakah memang "posisi" pedagang dan pemasar online sudah diabaikan ? 

Pedagang dan pemasar online sudah menentukan jalur usaha mereka di pemasaran, dan mereka telah fokus dalam pengembangan diri dalam bidang tersebut. Pelatihan pemasaran, pemberian website dan pelatihan toko online "sepertinya" lebih tepat jika didedikasikan kepada mereka. Dan kami yakin pasti akan berimbas pada kinerja pemasaran mereka secara langsung.Atau apakah mereka memang sejatinya tidak masuk kriteria pelaku UMKM ? Nah, ini yang akan kami pertanyakan kepada instansi terkait.

Biarlah produsen fokus pada produknya, dan segala hal yang terkati dengan kualitas, kapasitas, kontinuitas dan legalitas. Hanya jika memang skala usaha sudah mulai berkembang sehingga mampu menambah SDM dengan fungsi pemasaran, bolehlah pelatihan pemasaran tersebut ditujukan kepada si pelaku pemasaran. Tetapi seringkali yang mendapatkan pelatihan adalah usaha mikro, yang pelaku produksi dan pemasarannya diborong oleh pemilik usaha sendiri. Alih-alih meningkat penjualannya, malah kualitas produknya merosot dan kapasitas menurun dan hal ini benar-benar terjadi di lapangan.

Saran kami adalah berikan pelatihan sesuai porsinya, bukan banyaknya materi pelatihan yang paling penting tetapi pelatihan yang tepat sasaranlah yang terpenting.

Menanggapi usulan kami tersebut, maka tindak lanjutnya adalah koorinasi penyusunan road map pelatihan UMKM di Jawa Tengah dari seluruh SKPD (Dinas) terkait. Semoga permasalahan pemasaran UMKM bisa secara bertahap kami urai dan selanjutnya kita mampu bersaing dalam pemasaran untuk skala yang lebih besar dan global.