Laman

  • Home

Kamis, 26 Mei 2016

Kami Masih Butuh "Lokomotif" Untuk Membuat UMKM Bisa Ekspor

SME Goes Export (UMKM Ekspor)

Mencoba memenuhi beberapa keinginan dari para pemangku jabatan di instansi yang terkait dengan pembinaan UMKM untuk membawa UMKM mereka bisa menembus pasar ekspor pastilah bukan pekerjaan yang mudah mengingat kesenjangan keinginan dan kenyataan yang masih cukup jauh. Dengan kata lain, masih banyak PR yang perlu digarap secara bertahap untuk bisa mewujudkan UMKM bisa ekspor dalam "skala yang sebenarnya" sebagaimana keinginan yang sering dilontarkan kepada kami.

PR itu antara lain mengenai pemahaman kualitas produk untuk standard ekspor, dan yang lebih penting lagi memahamkan apa artinya konsistensi kualitas pada produk massal dan produk berkelanjutan. Memahamkan SOP sederhana dan sistem QC (quality control) kepada UMKM pastilah butuh waktu dan usaha yang tidak mudah. Belum lagi memahamkan mereka mengenai pentingnya teknologi produksi y ang bisa mendukung kecepatan produksi dan kapasitas produksi, karena delivery time adalah hal yang sangat krusial dalam perdagangan ekspor. Belum lagi memahamkan mereka bagaimana menghitung biaya-biaya yang terkait dengan kegiatan ekspor.

Persyaratan, regulasi dan prosedur ekspor juga sudah wajib dipahami oleh UMKM yang ingin melakukan ekspor. Karena pemahaman yang kurang dan salah atas hal tersebut bisa berakibat fatal dan berimbas kepada kerugian. 

Konsekwensi modal kerja yang cukup besar untuk melakukan ekspor dalam skala yang dimaksudkan, karena untuk mengisi 1 buah container bisa dibutuhkan modal ratusan juta dan hal ini juga harus disampaikan kepada UMKM dengan bijaksana.

Jangan tanya UMKM mengenai keinginannya, melainkan tanya mengenai apa yang telah bisa mereka lakukan sekarang.

Dari pengalaman-pengalaman kami, ketika UMKM ditanya untuk bisa ekspor pastilah mereka akan menggebu-gebu untuk bisa ekspor tanpa berpikir apa konsekwensinya. Mereka tidak salah, tetapi pertanyaannya yang kurang lengkap, karena sering lupa ditanyakan apa progress yang telah mereka capai untuk mengejar keinginannya tersebut.

Bahkan dalam beberapa kali kasus, kami masih ragu ketika para UMKM meminta mereka diperkenalkan kepada buyer di luar negeri secara langsung sementara mereka "tidak menguasai" bahasa Inggris dan belum paham benar mengenai ekspor itu sendiri. Semangatnya memang OK, tapi ketika hal ini tidak disaring maka bisa mengakibatkan kontra produktif karena buyer bisa melayangkan komplain kepada kami mengenai kualitas pembinaan kami ketika kami mereferensikan UMKM yang belum benar-benar siap (luar dalam) dalam melakukan perdagangan ekspor.  Dan kondisi ini ternyata belum dipahami benar oleh UMKM itu sendiri.

Meskipun kami ingin sekali UMKM bisa langsung ekspor, tetapi di sisi lain kami harus sudah mulai melakukan seleksi ketat saat melepas referensi kepada buyer akan kiinerja UMKM binaan kami yang ingin ekspor. Jangankan ekspor, banyak di antara UMKM yang belum bisa memegang komitmen dalam bertransaksi dengan buyer lokal. Hal ini bisa jadi bukan kesalahan mereka, melainkan kesalahan kami dalam melakukan pembinaan yang tidak melangkah) dan sikat mental kewirausahaannya terlebih dahulu. Belum lagi mungkin karena kesalahan kami yang terburu-buru ingin mengorbitkan UMKM yang kami lihat hanya dari produknya saja, bukan dari sisi SDMnya.

Sistem lokomotif adalah shortcut untuk mengatasi masalah UMKM Goes Ekspor

Setiap masalah harus segera dicarikan solusinya, tidak cukup hanya dengan satu solusi tetapi harus dengan beberapa alternatif. Dan hal tersebut telah kami lakukan, selain dengan eCommerce yang telah mulai kami jalankan (GetAsean.Com) yang kami maksudkan untuk memberikan kemudahan-kemudahan ekspor bagi UMKM yang berorientasi ekspor yang telah benar-benar "siap" ekspor kami juga melakukan upaya lain yaitu sistem lokomotif.

Lokomotif yang coba kami lakukan adalah dengan cara menggandeng pengusaha kelas menengah dan besar untuk menyertakan produk UMKM dalam perdagangan ekspornya. Lokomotif ini kami maksudkan untuk mengurangi beban masalah finansial bagi UMKM ketika mereka harus melakukan ekspor sendiri, disamping benan kesenjangan pemahaman mengenai persyaratan, regulasi dan prosedur ekspor yang belum memadai dari pelaku UMKM.

Dengan sisem lokomotif ini pengusaha kelas menengah dan besar juga bisa melakukan edukasi "leharning by doing" kepada UMKM dalam hal kualitas melalui QC yang ketat dan pemaksaan pemenuhan kapasitas dan delivery. Tanpa edukasi semacam itu, pelaku UKMM akan terakselarasi mengenai pemahamannya mengenai ekspor sampai akhirnya nanti setelah mereka mampu "menabung" dari hasil keuntungan untuk modal, mereka akan bisa melakukan ekspor sendiri.

Sistem lokomotf ini saat ini juga kami coba terapkan pada hotel dan toko oleh-oleh yang berskala cukup besar. Kami memotivasi mereka untuk mengembangkan perdagangan ekspor dengan komoditas yang diperdagangkan adalah produk UMKM Jawa Tengah. Paradigma bahwa hotel hanya jual kamar, ruang meeting dan resto sudah mulai bergeser dengan paradigma bahwa hotel pun memiliki potensi untuk melakukan ekspor dari produk-produk kerajinan yang ada di art shop mereka.

Toko oleh-oleh pun saat ini sudah banyak yang mendapatkan permintaan produk dari importer di luar negeri, hanya saja kami masih perlu koordinasi dengan mereka untuk menyediakan SDM yang mampu menangani ekspor. Bukankah jika toko oleh-oleh ini melakukan ekspor, maka yang diekspor adalah produk UMKM itu sendiri ? 

Semoga dengan tulisan ini, banyak pihak yang terkait bisa merapat dan berdiskusi dengan kami untuk pengembangan program lebih lanjut. Kami hanyalah fasilitator, kami butuh beberapa pihak yang bersedia jadi sponsor dan investor untuk pengembangan lebih lanjut.