Laman

  • Home

Minggu, 13 Maret 2016

Belajar Kreativitas Dari UMKM Yogyakarta Dalam Pameran JIFFINA 13-16 Maret 2016

Pameran JIFFINA 13-16 Maret 2016
Minggu kerja ? HeHe, mengapa tidak ? Mengingat jadwal minggu depan yang padat, kami hanya sempat mengunjungi JIFFINA pada hari Minggu saat acara pembukaan acara di JEC Yogyakarta. Pameran ini dibuka oleh Kanjeng Sultan dan diikuti oleh rekan-rekan anggota ASMINDO Jawa - Bali. 

JIFFNA 2016
Sebagaimana kebiasaan saya, jam pertama kunjugan selalu di pagi hari adalah "Coffee Shop" dulu. Sebelum memulai acara melihat trend desain furniture dan handicraft saat ini. Di halaman depan ini saya menghabiskan waktu sekitar seperempat/setengah jam untuk sekedar menikmati suasana sebelum memasuki gedung pameran. 

Setelah puas ngopi, saya ngobrol dengan panitia dan dibuatkan kartu visitor sebagaimana di bawah ini. Buyer ? Yes, saya mendapatkan kartu ini atas nama buyer. Mungkin GetAsean.Com tetap untuk mewakilinya karena trend bisnis eCommerce sedang booming saat ini sebagaimana tamu-tamu lain yang ternyata banyak dari kalangan eCommerce.

Kartu Masuknya Tertulis ASMINDO dan BUYER .. HeHe

Kreativitas Handicraft Dari Yogyakarta

Pameran adalah unjuk kreativitas produk dan kreativitasnya. Saya melihat pameran ini banyak didominasi oleh pemain-pemain muda dari Yogyakarta yang sangat kreatif dalam memanfaatkan potensi sekitar. Dari meraka ada yang berkreasi dari kertas bekas majalan dan koran yang disulap jadi berbagai macam handicraft dan sudah diekspor ke USA. Produk ini memang cukup menarik perhatian, karena berangkat dari ide yang kreatif dari memanfaatkan kertas bekas dengan cari melipat dan mengkombinasikannya dengan bahan lain. Kertas tidak dihancurkan, hanya dilipat tetapi dengan daya kreativitas yang tinggi.

Pemanfaatkan kayu bekas juga menjadi trend handicraft saat ini. Jika limbah kayu jati mungkin sudah sangat biasa, tetapi jika kayu bekas yang terseret oleh laut, sungguh ini merupakan kreativitas yang perlu kami acungi jempol. Bagaimana mereka bisa memberikan kesejahteraan kepada nelayan yang mau membersihkan sampah di laut dan kemudian memanfaatkan kreativitasnya untuk produk handicraft seperti patung, relief dan sebagainya. Luar biasa idenya !

Berbagai limbah kayu jati juga dimanfaatkan menjadi produk furniture dan dekorasi dengan desain-desain yang baru dan segar. Dan saya juga melihat kayu bekas packing (jati londo) telah berubah jadi bahan interior yang modern. 

Pastinya saya tidak akan meninggalkan stand dari Sang Maestro Gerabah, Mas Timbul Raharjo yang memajang produk Kuda Egrangnya di pelataran dan 2 stand besarnya di dalam gedung. Kreativitas ini memang membuat para tamu asing yang datang berdecak kagum akan karya seninya ini. Berbahan kayu bekas dan logam, Mas Timbul menyulapnya jadi karya kuda egrang yang luar biasa dan menjadi ciri khas karyanya.

Ya, dalam setiap pameran saya selalu belajar kreativitas dari para peserta pameran dan saya juga melihat trend produk saat ini. Trend produk saat ini memang telah merambah karya modern dengan bahan limbah. Bagaimana kita mampu mengolah bahan yang murah menjadi karya yang bagus adalah sebuah tantangan bagi para produsen. Dan saya melihat teman-teman produsen dari Yogyakarta telah melihat "trend" ini dengan jelas, dan semoga UMKM di Jawa Tengah pun memiliki visi yang sama dan mampu mengembangkan kreativitasnya seperti teman-teman di Yogya.