Laman

  • Home

Sabtu, 13 Februari 2016

Bicara Kewirausahaan Dengan Para Keponakan

Kewirausahaan Sejak Dini

Tidak mudah memahamkan kewirausahaan kepada generasi-generasi penerus kita yang saat ini masih duduk di bangku SMU. Imaginasi mereka tentang "bisnis" masih terlalu di awang-awang, bahwa bisnis ini harus menghasilkan uang yang besar dan seolah bisnis itu adalah suatu hal yang sangat mudah dilakukan sebagaimana apa yang mereka baca di buku-buku kewirausahaan yang ada.

Tetapi tidak mudah tidak harus berarti tidak bisa, melainkan harus butuh waktu untuk memahamkan mereka tentang apa itu wirausaha. 

Sebagaimana halnya ketika hari ini saya ngobrol dengan salah satu keponakan dan saya menanyakan mengenai ide usaha yang ada di benaknya. Mulai dari dia berkeinginan membangun lapangan futsal, yang menurutnya sangat menguntungkan tanpa tahu berapa investasi yang harus dikeluarka Dan untuk lahan dan bangunan dan tanpa tahu pula berapa lama investasi itu akan kembali sampai pada usaha warnet yang tentunya sudah ketinggalan jaman. Ya, tetapi itulah potret dari generasi kita saat ini yang menjadi PR kita untuk memahamkan hidup yang realistis tetapi up to date. Jika imajinasi mereka masih seperti itu, bukan salah mereka tetapi karena memang demam kewirausahaan yang menitik beratkan pada kreativitas dan inovasi belum menyentuh mereka dengan frekwensi yang lebih padat.

Jangan Berharap Terlalu Besar dan Berpikir Terlalu Tinggi.

Banyak orang sukses dalam usaha justru dari pemikiran yang sederhana. Berharap terlalu besar dan berpikir terlalu tinggi justru sering "melewatkan" kesempatan dan peluang yang ada.

Saya mencoba membuka pemikiran keponakan saya tersebut, dengan memancingnya dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

1) Berapa jumlah temanmu sekelas ? Dan berapa jumlah temanmu seangkatan ?
2) Berapa jumlah temanmu yang cewek ? (Keponakan saya ini laki-laki).
3) Berapa usia mereka saat ini ? Pasti saat ini mereka menjelang 17 tahun.

Nah, selanjutnya saya tanya kepada keponakan ini :"Apa peluang yang kamu dapat dengan kondisi ini ?"
Saya coba arahkan dia ke arah peluang usaha yang ada, tetapi mungkin kita harus sabar membimbingnya. Ketika dia belum bisa melihat peluang itu maka saya pun mencoba bertanya kepada dia:

4) Bukankah teman-temanmu yang cewek pasti ingin ULTAH-nya yang 17 dirayakan special ? 

Jika dia mampu membuat paket ULTAH (Ulang Tahun) yang unik dan kreatif serta terjangkau biayannya untuk teman-temannya, bukankah itu peluang latihan usaha baginya ?

Ketika tadi dia masih belum "pada tempatnya", sekarang keponakan ini mulai tertarik dan mulai "menangkap" peluang ini. Hal ini dibuktikan ketika dia bertanya kepada saya: "Om, caranya bagaimana?"

Saya pun memberikan gambaran kepada dia untuk mulai bertanya pada dia, tempat-tempat mana yang menurut usia mereka menarik untuk merayakan ulang tahun. Apakah itu restoran, cafe atau apa lah yang pasti anak seusia merekalah yang tahu kondisinya.

Kemudian saya berikan tips kepadanya untuk membuat paket perayaan ulang tahun di restoran dan cafe. Bagaimana dia menghitung biaya per kepala untuk makanan. minuman dan bonus tempat perayaan beserta fasilitas yang harus disediakan. Bagaimana membuat paket standar yang hanya butuh makanan dan minuman, tanpa hiburan sampai dengan memberikan tambahan opsi untuk hiburan.

Memang seringkali hal-hal kecil yang bisa menjadi peluang usaha di sekitar kita bisa terlewatkan karena kita sering melhat bisnis itu "mewah" dengan harapan-harapan yang terlalu besar kepadanya. Seringkali kita juga berpikir terlalu jauh dari yang semestinya sampai lupa bahwa di sekitar kita ini masih banyak peluang asal kita jeli, kreatif dan inovatif.

Anak-Anak Kita Perlu Diasah Kepekaan, Kreativitas & Inovasinya.

Cerita di atas hanyalah sebuah contoh dari pengalaman nyata yang barusan saya alami. Beban materi pendidikan yang terlalu padat tanpa menghiraukan aspek kreativitas, kepekaan dan inovasi bisa mengakibatkan generasi muda yang egois dan tidak memilki daya kreativitas. Sayang jika investasi pendidikan yang kita keluarkan untuk mereka berakhir dengan hasil "mereka akan jadi karyawan".

Mengajarkan mereka mencoba mencari tambahan uang saku sendiri tidak ada salahnya, karena kita harus realistis bahwa masa mendatang tantangan untuk mencari pekerjaan jauh semakin sulit. Bahwa mereka harus dibukakan kesadarannya bahwa lulus sekolah tidak harus menjadi pegawai atau karyawan, melainkan ada peluang lagi yang lebih baik yaitu menjadi wirausaha. Pastinya konsekwensi dari masing-masing pilihan juga harus kita jelaskan secara gamblang kepada mereka.

Kunci dari kewirausahaan adalah kreatif dan inovatif serta jeli melihat peluang yang ada. Sementara yang terpenting dari kewirausahaan itu sendiri adalah pola pikir dan sikap mentalnya, bukan hasil akhir bahwa dia akan menjadi pengusaha. Bahkan skala usaha pun bukan prioritas dalam membangun mental wirausaha.

Mengasah kepekaan, kreativitas dan inovasi anak-anak kita adalah dengan jalan memberikan banyak referensi kepadanya. Bukan sekedar referensi buku, melainkan referensi visual dan pengalaman sendiri dalam memasuki lingkungan usaha. Mengajak mereka mengunjungi sentra-sentra produksi kerajinan, makanan dan sebagainya bisa dijadikan jadwal rutin untuk berpariwisata. Mengajak mereka mengobrol mengenai pandangan dan pemikiran mereka saat berada dalam lngkungan tersebut akan membantu mengukur pemahaman mereka tentang wira usaha.

Ketika referensi untuk mereka cukup, cobalah uji mereka untuk "memproduksi" ide-ide usaha versi mereka dan kita bantu mereka untuk memahamkan kondisi dan konswensinya. Ketika ada ide usaha mereka yang ternyata applikatif, maka cobalah berikan kesempatan kepada mereka untuk mencoba usaha tersebut. Tentunya kita akan ajarkan dulu kepada mereka bagaimana mereka menuangkan ide tersebut menjadi sebuah konsep dan business plan sederhana. Anggap saja sebagai syarat untuk mendapatkan "uang trial" dari Anda.

Mendampingi mereka dalam mencoba menjalankan usaha bisa membantu menyelamatkan "uang" anda di pemanfaatan yang kurang tepat. Pahamkan kepada mereka bahwa uang itu bukan uang hibah, melainkan uang pinjaman dari Anda yang harus kembali dengan kelebihannya.

Nah, mungkin tahapan-tahapan ini bisa membantu anak-anak kita belajar kewirausahaan. Tetapi harus diingat bahwa usaha mereka harusnya yang skala kecil (mikro) agar waktu belajarnya tidak terganggu dengan usaha tersebut. Pilihlah usaha-usaha kreatif yang tidak perlu modal besar, cukup bisa mengasah kemampuan kreativitas mereka. Saat ini mereka baru dalam taraf belajar mengenal usaha, bukan harus melahirkan usaha.

Selamat mencoba !