Laman

  • Home

Sabtu, 06 Februari 2016

3 Langkah Membuat Karyawan Menjadi Entrepreneur

Entrepreneurship Adalah Mengenaik Sikap Mental & Pola Pikir

Sementara orang berpikir bahwa karyawan di  bidang pemasaran dan sales hanya tinggal selangkah lagi untuk menjadi entrepreneur. Anggapan itu tidak sepenuhnya benar, karena kami dan teman-teman yang seprofesi di pemasaran pada awalnya ternyata malah sulit untuk memulai sebuah usaha. Mengapa demikian ?

Ternyata entrepreneurship bukan masalah pengetahuan dan skill kerja, melainkan sikap mental dan pola pikir. 

Sebagai karyawan kita sering tanpa sengaja "berhitung" apa yang kita keluarkan dan "memperhitungkan"-nya kepada perusahaan kita. Bahkan sampai hal yang terkecil pun seperti uang parkir, tol dan sebagainya pun sering sampai kita perhitungkan kepada perusahaan. Memang tidak salah, yang salah adalah dengan cara seperti itu seolah kita menjadi "terbenam" dalam mental karyawan. Semakin lama, sikap ini semakin mengikis keberanian kita dalam menghadapi resiko, dan hal inilah yang menyebabkan kita terkendala menjadi seorang entrepreneur.

Rutinitas pekerjaan juga sering membawa kita kepada ketergantungan dan kenyamanan, sehingga kita sendiri lupa untuk menantang diri kita ke dalam ketidakteraturan dan ketidakpastian. Rutinitas juga menjauhkan kita dari kreativitas dan inovasi.

Kemandirian dan berani ambil resiko atas ketidakpastian itulah cikal bakal sikap entrepreneur, disamping hal lain berupa kreativitas dan inovasi.

Produktivitas Kerja Bisa Ditingkatkan Dengan Jiwa Entrepreneurship

Banyak pakar mengatakan bahwa sikap entrepreneurship perlu ditanamkan kepada karyawan untuk meningkatkan kinerja mereka dengan pemberian 2 pilihan, reward and punishment. Memberikan sedikit pilhan berarti memberikan "fokus" kepada karyawan. Memberkan "reward" berarti memberikan sebuah "tujuan" dari kinerja mereka selain gaji. Sementara memberikan "punishment" adalah memberikan kesadaran kepada karyawan bahwa kesalahan bisa dihindari dengan persiapan dan sistem kerja yang baik.

Selain sikap entrepreneurship ini bermanfaat bagi perusahaan juga bermanfaat bagi individu si karyawan, karena tanpa terasa mereka sudah berlatih menjadi entrepreneur di dalam "base camp" yang aman sebelum mereka nanti terjun sendiri ke dalam dunia usaha yang liar.

Lantas apa 3 langkah yang bisa membantu karyawan menjadi entrepreneur ? Entrepreneur di sini masih dalam scope kewirausahaan di dalam perusahaan (intrapreneurship).

1) Mampu Membuat Work Concept & Work Plan

Sangat penting bagi seorang karyawan atau calon wira usaha membuat sebuah konsep kerja dan mendetailkannya dalam work plan. Work plan yang tertata baik dan rapi urutan kerjanya serta mampu menampilkan detail kerja merupakan sebuah nilai tambah, karena memudahkan orang lain untuk memahaminya.

Konsep dan rencana kerja inilah yang akan menjadi acuan kerja dan penilaian dari kinerja karyawan tersebut.

2) Mampu Mengaplikasikan Work Concept & Work Plan Tersebut Sendiri.

Untuk menguji konsep dan rencana kerja kita berjalan dengan baik atau masih perlu perbaikan, kita perlu mengujinya dengan mengaplikasikan konsep dan rencan kerja tersebut oleh kita sendiri, bukan orang lain. Dengan cara ini kita bisa mengetahui kelebihan dan kekurangan dari konsep dan rencana kerja tersebut.

Hal inilah yang membuat kita menjadi expert di bidang tersebut karena tahu kondisi tertulis dan teraplikasikan di lapangannya.

3) Mampu Mengusahakan Sumber Pembiayaan Sendiri Untuk Work Plan Tersebut.

Untuk seorang karyawan, hal inilah yang tersebut. Sulit karena ada rasa "tidak ikhlas" untuk berbagi dengan perusahaan yang telah mengedukasi kita sampai sejauh ini. Selalu berpikir bahwa hal tersebut selalu menguntungkan perusahaan tanpa melihat betapa hal tersebut membangun kemandirian dalam diri kita.

Jika tidak memungkinkan pembiayaan dari pihak lain, maka pembiayaan dari perusahaan sendiri harus perlakukan seolah biaya tersebut adalah sebuah "investasi" yang harus selalu kita kembalikan sebagai "return".

Tidak langkah inilah yang pelan-pelan mengajarkan kepada kami untuk belajar mandiri, kreatif dan inovatif dalam menjalankan tugas yang dibebankan kepada kami. Hal itu karena kami tidak punya pilhan ! Harus kreatif dan mandiri atau kinerga kami terhenti karena permasalahan umum dalam sebuat usaha, yaitu "tidak ada dana".