Laman

  • Home

Minggu, 10 Januari 2016

Lagi, Jangan Buat UMKM Jadi SERBA BISA Tapi Buat Mereka Menjadi Spesialis

Lagi, UMKM Bukan Superman  

Apakah Memang UMKM Harus Bisa Segala Hal ?

Dalam mencermati pembinaan UMKM di Jawa Tengah ini saya semakin dikaburkan dengan scoope (lingkup) materi pembinaan yang terlalu meluas, seolah UMKM ingin dijejali berbagai ilmu sehingga justru menjauhkan mereka dari spesialisasi mereka. Satu hal lagi yang saya cermati adalah UMKM yang menjadi obyek pembinaan adalah UMKM produsen, sementara UMKM pedagang (pemasar) kurang mendapatkan perhatian.

Bahkan pada kenyataannya, UMKM pedagang (pemasar) seolah "ingin" diabaikan dengan mengajarkan UMKM produsen dengan berbagai ilmu pemasaran. Para produsen pun diajarkan berbagai ilmu bagaimana membuat toko online agar mereka bisa menjual sendiri. 

Semua sah-sah saja ketika output yang dihasilkan adalah maksimal bukan malah nanti UMKM produsen keasyikan berjualan sehingga lupa dengan kualtias produk yang harus dia jaga dan jamin, lupa bagaimana dia punya kewajiban untuk meningkatkan kapasitas dan kontinuitas produksi.

Meskipun permasalahan kebanyakan UMKM adalah pemasaran bukan berarti UMKM produsen harus diajarkan bagaimana memasarkan produk sebagaimana yang dilakukan oleh pedagang. Meskipun seorang pedagang harus tahu product knowledge pun bukan berarti bahwa mereka harus sedetail para produsen. Cukup pembinaannya diarahkan bagaimana masing-masing pihak memahami lingkup kewajibannya dan mengetahui fungsinya masing-masing.

Benarkah Masalah "Pembinaan Super Materi" Inilah Yang Justru Memperlambat UMKM Naik Kelas ?
 
Kami justru ingin melihat bahwa setiap materi pembinaan benar-benar tepat audience. Misalnya untuk UMKM produsen lebih fokus diajarkan bagaimana manajemen produksi yang baik, yang mampu membuat proses efisien dan efektif sehingga mampu menekan harga jual produk. Bagaimana kita mengenalkan teknologi produksi yang up to date tapi tepat guna juga merupakan materi dasar bagi UMKM produsen, bagaimana membuat desain kemasan dan brand produk yang menarik konsumen. Selanjutnya mengajarkan manajemen usaha yang baik dan benar adalah materi pokok bagi UMKM produsen. Bukannya, belum apa-apa kita sudah mengajarkan kepada mereka apa itu pemasaran produk, mengajarkan berjualan di toko online. 

Dengan cara ini justru akan menjadi bumerang bagi UMKM produsen sendiri, karena nantinya produk yang beredar adalah produk yang masih "rawan" komplain yang justru akan memberikan jalan buntu pada pengembangan pemasaran. 

Materi pemasaran lebih tepat diterapkan kepada audience pedagang atau pemasar, yaitu UMKM yang tidak melakukan aktivitas produksi melainkan hanya berdagang. Ajarkan kepada mereka bagaimana mempelajari product knowledge dengan baik dan benar, bagaimana etika berdagang, bagaimana menjual melalui berbagai kanal pemasaran dan sebagainya.

Bahkan kami pun yang sudah bergelut dengan dunia pemasaran lebih dari 20 tahun, jika harus mengurus masalah produksi kami tidak akan sanggup, dan hal serupa juga kami anggap sama ketika seorang produsen harus juga menguasai ilmu pemasaran.

Dalam menghadapi MEA ini, seharusnya BASIS PRODUKSI dijadikan fokus bagi pembinaan UMKM di Jawa Tengah. Jika basis prodoksi di Jawa Tengah ini kuat dalam kualitas, harga jual, kapasitas dan kontinuitas supply maka akan sangat sulit bagi produk dari luar Jawa Tengah untuk menembusnya. Selanjutnya adalah tugas UMKM pemasar yang akan diasah menjadi pemasar yang handal baik untuk mendobrak pasar nasional maupun pasar ekspor. Sehingga terjadi sinergi yang seharusnya, bukan malah salah satu fungsi (UMKM pemasar) justru dilemahkan dengan sistem pembinaan UMKM yang ada saat ini.