Laman

  • Home

Sabtu, 16 Januari 2016

Justru Kami Yang Belajar Dari Pelaku UMKM

Pengalaman Para Pelaku UMKM Merupakan Sumber Materi Pembelajaran Kami
Seolah Kami Yang Memberikan Pelajaran Kepada UMKM, Padahal Justru Sebaliknya.

Selama ini seolah teman-teman UMKM merasa kami yang memberikan banyak pelajaran kepada mereka mengenai bagaimana memulai dan mengembangkan usaha, padahal justru sebaliknya. Kami belajar dari para pelaku UMKM untuk selanjutnya kami selaraskan dengan pengetahuan dan pengalaman saya sendiri dan kemudian kami bagikan kepada teman-teman UMKM lainnya. 

Cara ini cukup efektif untuk selalu menggali pengetahuan dan best practice dari pelaku-pelaku yang sudah berhasil memecahkan masalah, baik oleh mereka sendiri maupun dengan bantuan kami. Jadi sebenarnya bukan kami gurunya, melainkan mereka sendiri, sementara mereka justru tidak menyadarinya. Bahkan mereka merasa kami seolah gudang ilmu yang tidak akan habis untuk ditambang, padahal pengetahuan dan pengalaman kami pun sangat terbatas dan kami pun hanya fokus membuat formulasi dari contoh-contoh empiris di lapangan untuk kemudian menjadi alat bantu kami dalam memberikan solusi kepada UMKM dengan permasalahan yang tipikal atau sejenis.

Pengalaman dan permasalahan dari UMKM sendiri semakin lama semakin berkembang, sedemikian halnya pelajaran yang kami dapatkan di lapangan yang juga ikut berkembang. Inilah metode pembelajaran yang kami anut, seolah kami memberikan pelajaran padahal kamilah yang belajar dari para pelaku UMKM.

Lantas pelajaran apa saja yang kami dapatkan dari teman-teman UMKM ? 

Berikut adalah beberap hal lain yang saya pelajari dari teman-teman UMKM:
Keberanian

Kami belajar banyak kepada keberanian teman-teman UMKM yang berani mengeksekusi ide menjadi sebuah usaha. Keberanian inilah yang menjadi modal utama dalam memulai usaha. Jika kita ingat apa yang dikatakan (Alm) Bapak Bon Sadino, bahwa usaha itu yang penting adalah harus DIMULAI, sebenarnya beliau ingin mengisyaratkan bahwa keberanian memulai itulah yang terpenting.

Keberanian menghadapi resiko dan ketidakpastian juga merupakan hal yang menarik untuk saya pelajari dari para pelaku usaha. Bagaimana optimisme itu terbentuk dan bagaimana membangunnya ?

Belajar Paling Efektif Adalah Belajar Sambil Praktek

Banyak yang ingin memulai usaha membekali diri dengan banyak pengetahuan mengenai kewirausahaan, pengetahuan mengenai produksi, pemasaran, manajemen usaha dan sebagainya. Tetapi seolah ilmu-ilmu tersebut menjadi terkubur percuma karena tidak segera diikuti dengan memulai usaha. Kami pun merasakan bahwa ketika praktek usaha dan menemukan masalah, di situlah pembelajaran yang sebenarnya terjadi karena kita dihadapkan pada pilihan untung dan rugi, atau dihadapkan pilihan usahanya hidup atau berhenti.

Mau Berbagi Rejeki Dengan Orang Lain

Ternyata berbagi merupakan hal penting dalam kewirausahaan, dimana kita mau berbagi biaya dan pendapatan dengan mitra atau pegawai kita. Jika belum mampu berbagi dengan pegawai maka mereka akan berbagi hasil dengan mitra (supplier) dalam bentuk berbagi margin laba.

Bisnis adalah kebersamaan dan harmonisasi antara supply, produksi dan pemasaran. Hal ini saya perhatikan dalam keseharian kami dengan UMKM di Jawa Tengah. 

Kesuksesan Adalah Sebuah Investasi

Sukses tidak bisa dicapai dengan serta merta, harus ada pengorbanan waktu, biaya, tenaga dan pemikiran. Setiap orang memiliki jalur yang berbeda-beda dalam meraih sukses. Waktu pencapaiannya pun berbeda-beda, semua memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Jika saya cermati pelaku UMKM yang mampu melaju cepat di jalurnya adalah pelaku UMKM yang mampu melihat peluang dan berani berinvestasi lebih dari yang lain.

Kemampuan membaca peluang ini didasarkan pada pengetahuan dan pengalaman dari para pelaku UMKM yang senantiasa terus bergerak dan belajar sampai mereka mendapatkan formulasi bisnisnya sendiri. 

Kreativitas & Inovasi Adalah Suatu Keharusan 

Kami sering menghadapi kesulitan ketika harus memberikan solusi-solusi pemasaran kepada UMKM yang masuk kategori "ikut-ikutan" atau UMKM yang tidak mempelajari dan mengembangkan potensi dan tidak belajar menjadi kreatif dan inovatif. Dengan kondisi ini, apapun solusi yang kami berikan tidak banyak diimprovisasi oleh mereka di lapangan, dan selanjutnya mereka akan datang lagi kepada kami dengan masalah yang sama dan ujung-ujungnya menuntut adanya fasilitas pendampingan.

Pendampingan memang lebih baik, tetapi jika jumlah konsultan UMM sangat tidak sebanding dengan jumlah pelaku UMKM maka apakah pendampingan itu bisa menjangkau banyak UMKM dan berapa biaya yang harus dikeluarkan untuk investasi membina UMKM yang kurang kreatif tersebut menjadi naik kelas ? Sementara sikap mental dan mindset mereka belum terbangun sebagai seorang wirausahawan. 

Hal-hal seperti ini selalu kami cermati untuk pengembangan pembinaan kami di masa mendatang. 

Fokus & Selektif

Beberapa binaan kami yang cukup signifikan dalam pengembangan usahanya adalah karena mereka fokus dan selektif dalam beberapa hal. Misalnya; Dalam pemilihan materi pembinaan, mereka berani menolak pembinaan tertentu dengan pertimbangan bahwa mereka belum butuh materi tersebut karena mereka mau mematangkan praktek dari materi yang didapatkan sebelumnya. Mengapa mereka berani menolak meskipun pelatihan tersebut gratis ? Bukan karena gratisnya, tetepi karena mereka mau fokus dalam mengembangkan usahanya.

Jika kami cermati UMKM yang terlalu "haus" belajar tanpa mampu memilah-milah materi dan latar belakang pematerinya, akhirnya mereka bingung sendiri dalam prakteknya. Kami mengatakan mereka ini "kebanyakan ilmu", dan hal ini seringkali terjadi dalam pembinaan kami.

Sayang ilmunya, sayang usahanya. Mungkin ini yang tepat saya katakan untuk mewakilinya. Sayang imunya tidak terpakai dengan optimal, dan sayang juga usahanya karena ditinggal untuk pelatihan-pelatihan yang padat jadwalnya.

Memiliki Cita-Cita

Bagi UMKM yang telah berkembang, saya mencermati mereka ternyata memiliki cita-cita yang kuat terhadap usahanya. Meskipun hal ini kurang mereka ekspresikan, tetapi karena frekwensi pertemuan kami dengan mereka cukup memadai akhirnya kami pun bisa menggali informasi ini. Mereka yang memiliki cita-cita kuat ini, ternyata juga lebih fokus. 

Cita-cita mereka itu sebenarnya adalah visi, tujuan usaha yang sedang mereka tuju. Itulah yang membuat mereka fokus dengan usaha-usaha untuk mencapainya.

Demikan beberapa hal yang saya pelajari dari pelaku UMKM baik yang masih memulai, mempertahankan usaha maupun yang sedang mengembangkan usaha. Semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi pelaku UMKM sendiri, maupun bagi penggiat UMKM yang lain.