Laman

  • Home

Minggu, 13 Desember 2015

Usaha Kue Tradisional Modifikasi Makin Diburu

Apem Bakar Cokelat Keju, Onde-onde Mocca Keju Susu hingga Pepes Sagu Cokelat


FastNewsIndonesia.Com

Kue tradisional identik dengan sebutan jajanan pasar, karena awalnya banyak dijajakan di pasar tradisional. Tapi pada perkembangannya, kue tradisional kian naik kelas. Fakta ini bisa dilihat dari menjamurnya gerai kue tradisional yang tumbuh di berbagai tempat, mulai dari sentra kuliner, kantin sekolah hingga mal. Dari kacamata Info Kuliner di bebeberapa kawasan, banyak dijumpai pelaku usaha kue tradisional yang tampil dengan gaya baru dan lebih variatif. Sebut saja Onde-onde Ketan Hitam Isi Cokelat Keju, Apem Bakar Topping Cokelat Kacang atau Pepes Sagu Keju. Pangsa pasar yang cukup luas membuat prospek usaha kue tradisional cukup cerah, apalagi Indonesia punya banyak varian kue tradisional yang belum terjamah modifikasi. Seberapa besar peluang yang ada?

Tingkat persaingan usaha yang kian tinggi, membuat banyak pelaku usaha kue tradisional berupaya menghadirkan kreasi yang berbeda dan inovatif. Cara ini juga dilakoni demi meningkatkan pamor kue tradisional yang kian tergerus arus globalisasi. Tak hanya memodifikasi kue tradisional yang masih banyak beredar di pasaran jadi lebih modern, beberapa pelaku usaha juga mengangkat kembali kue tradisional yang keberadaannya kian langka, sehingga bisa terus eksis dan bersaing dengan kudapan lain.

Dari beberapa pelaku usaha kue tradisional yang ditemui Info Kuliner, salah satu alasan yang mendorong mereka menggeluti bisnis kue tradisional bukan hanya mencari keuntungan semata, tapi juga keinginan untuk melestarikan budaya daerah yang kian terjerumus modernisasi. Ada juga pelaku usaha yang terdorong menggeluti bisnis kue tradisional karena kecewa dengan cita rasa jajanan pasar yang kurang memerhatikan kualitas rasa. Sehingga menurunkan minat konsumen untuk menggemari kue tradisional.

Daya Tarik Pasar. Memodifikasi tampilan kue tradisional klasik jadi lebih modern, merupakan salah satu cara yang dilakukan pelaku usaha kue tradisional dalam menarik minat pasar. Selain memberi lebih banyak pilihan menu, modifikasi juga bisa diterapkan sebagai langkah diferensiasi dari pelaku usaha sejenis.

Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Sofyan Rahman dan Lulu Diana, pemilik Onde-onde Intansari di Bekasi, Jawa Barat. Selain menghadirkan kreasi Onde-onde klasik berisi kacang hijau, Sofyan dan Lulu juga menciptakan varian Onde-onde Ketan Item, Onde-onde Keju, Onde-onde Coklat , Onde-onde Coklat Keju dan Onde-onde Mocca Keju Susu. 

Tak hanya isi yang beragam, adonan kulit yang digunakan juga cukup berwarna. Ada kulit yang berwarna putih untuk Onde-onde Original, kulit warna hitam untuk Onde-onde Keju, kulit berwarna hijau untuk Onde-onde Cokelat dan kulit berwarna cokelat untuk Onde-onde Mocca Keju Susu.

Tampilan dengan gaya baru juga dihadirkan oleh Halimah Hilmi, pemilik Ovin Bakar di Kalibata – Jakarta Selatan. Wanita berusis 36 tahun ini menciptakan Apem Bakar dengan topping yang beragam dan unik. Ada Apem Bakar Topping Kacang, Apem Bakar Topping Oreo, Apem Bakar Topping Almond, Apem Bakar Topping Keju, dan Apem Bakar Topping Cokelat. Secara tampilan, Apem Bakar racikan Halimah mirip dengan Donat ala Jco atau Dunkin Donut.

Modifikasi yang dilakukan Halimah bukan hanya sebatas tampilan yang terlihat secara kasat mata, penggunaan bahan baku utama dan pendukung yang digunakan untuk membuat adonan apem bakar juga diubah Halimah, tanpa terlalu jauh mengubah cita rasanya. Perubahan yang dilakukan Halimah di antaranya mengganti tepung beras dengan tepung terigu, sehingga tekstur Apem Bakar lebih mengembang dan empuk. Ia juga mengganti santan dengan susu kental manis yang dicairkan, agar daya tahan adonan bisa lebih lama. “Meski tampilannya baru, tapi konsumen masih bisa ngenalin kue yang disantap itu Apem Bakar,” tambah Halimah.

Kue tradisional lainnya yang juga telah terjamah modifikasi adalah Sawut, yakni kudapan dari parutan singkong yang dikukus bersama gula merah dan disajikan bersama kelapa parut. Dan pelaku usaha kuliner yang kembali memopulerkan kue khas Jawa Tengah ini adalah Adhin Al Kasanah, pemilik usaha Sawuri di Yogyakarta. Di tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, Sawut dibentuk seperti Onigiri atau Nasi Kepal khas Jepang. Agar lebih variatif, Adhin juga menambahkan isian seperti cokelat, keju, selai strawberry atau selai blueberry, di dalam adonan sawut.

Karena dipasarkan di sekitar kampus UGM, Sawut dikemas cantik dengan plastik mika bening yang dilipat seperti amplop, dan di bagian tengahnya direkatkan dengan sticker Sawuri sebagai label. FN 10

Usaha Kue Tradisional Modifikasi Makin Diburu

Apem Bakar Cokelat Keju, Onde-onde Mocca Keju Susu hingga Pepes Sagu Cokelat
Kue tradisional identik dengan sebutan jajanan pasar, karena awalnya banyak dijajakan di pasar tradisional. Tapi pada perkembangannya, kue tradisional kian naik kelas. Fakta ini bisa dilihat dari menjamurnya gerai kue tradisional yang tumbuh di berbagai tempat, mulai dari sentra kuliner, kantin sekolah hingga mal. Dari kacamata Info Kuliner di bebeberapa kawasan, banyak dijumpai pelaku usaha kue tradisional yang tampil dengan gaya baru dan lebih variatif. Sebut saja Onde-onde Ketan Hitam Isi Cokelat Keju, Apem Bakar Topping Cokelat Kacang atau Pepes Sagu Keju. Pangsa pasar yang cukup luas membuat prospek usaha kue tradisional cukup cerah, apalagi Indonesia punya banyak varian kue tradisional yang belum terjamah modifikasi. Seberapa besar peluang yang ada?

Tingkat persaingan usaha yang kian tinggi, membuat banyak pelaku usaha kue tradisional berupaya menghadirkan kreasi yang berbeda dan inovatif. Cara ini juga dilakoni demi meningkatkan pamor kue tradisional yang kian tergerus arus globalisasi. Tak hanya memodifikasi kue tradisional yang masih banyak beredar di pasaran jadi lebih modern, beberapa pelaku usaha juga mengangkat kembali kue tradisional yang keberadaannya kian langka, sehingga bisa terus eksis dan bersaing dengan kudapan lain.
Dari beberapa pelaku usaha kue tradisional yang ditemui Info Kuliner, salah satu alasan yang mendorong mereka menggeluti bisnis kue tradisional bukan hanya mencari keuntungan semata, tapi juga keinginan untuk melestarikan budaya daerah yang kian terjerumus modernisasi. Ada juga pelaku usaha yang terdorong menggeluti bisnis kue tradisional karena kecewa dengan cita rasa jajanan pasar yang kurang memerhatikan kualitas rasa. Sehingga menurunkan minat konsumen untuk menggemari kue tradisional.
Daya Tarik Pasar. Memodifikasi tampilan kue tradisional klasik jadi lebih modern, merupakan salah satu cara yang dilakukan pelaku usaha kue tradisional dalam menarik minat pasar. Selain memberi lebih banyak pilihan menu, modifikasi juga bisa diterapkan sebagai langkah diferensiasi dari pelaku usaha sejenis.
Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri, Sofyan Rahman dan Lulu Diana, pemilik Onde-onde Intansari di Bekasi, Jawa Barat. Selain menghadirkan kreasi Onde-onde klasik berisi kacang hijau, Sofyan dan Lulu juga menciptakan varian Onde-onde Ketan Item, Onde-onde Keju, Onde-onde Coklat , Onde-onde Coklat Keju dan Onde-onde Mocca Keju Susu.
Tak hanya isi yang beragam, adonan kulit yang digunakan juga cukup berwarna. Ada kulit yang berwarna putih untuk Onde-onde Original, kulit warna hitam untuk Onde-onde Keju, kulit berwarna hijau untuk Onde-onde Cokelat dan kulit berwarna cokelat untuk Onde-onde Mocca Keju Susu.
Tampilan dengan gaya baru juga dihadirkan oleh Halimah Hilmi, pemilik Ovin Bakar di Kalibata – Jakarta Selatan. Wanita berusis 36 tahun ini menciptakan Apem Bakar dengan topping yang beragam dan unik. Ada Apem Bakar Topping Kacang, Apem Bakar Topping Oreo, Apem Bakar Topping Almond, Apem Bakar Topping Keju, dan Apem Bakar Topping Cokelat. Secara tampilan, Apem Bakar racikan Halimah mirip dengan Donat ala Jco atau Dunkin Donut.
Modifikasi yang dilakukan Halimah bukan hanya sebatas tampilan yang terlihat secara kasat mata, penggunaan bahan baku utama dan pendukung yang digunakan untuk membuat adonan apem bakar juga diubah Halimah, tanpa terlalu jauh mengubah cita rasanya. Perubahan yang dilakukan Halimah di antaranya mengganti tepung beras dengan tepung terigu, sehingga tekstur Apem Bakar lebih mengembang dan empuk. Ia juga mengganti santan dengan susu kental manis yang dicairkan, agar daya tahan adonan bisa lebih lama. “Meski tampilannya baru, tapi konsumen masih bisa ngenalin kue yang disantap itu Apem Bakar,” tambah Halimah.
Kue tradisional lainnya yang juga telah terjamah modifikasi adalah Sawut, yakni kudapan dari parutan singkong yang dikukus bersama gula merah dan disajikan bersama kelapa parut. Dan pelaku usaha kuliner yang kembali memopulerkan kue khas Jawa Tengah ini adalah Adhin Al Kasanah, pemilik usaha Sawuri di Yogyakarta. Di tangan mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) ini, Sawut dibentuk seperti Onigiri atau Nasi Kepal khas Jepang. Agar lebih variatif, Adhin juga menambahkan isian seperti cokelat, keju, selai strawberry atau selai blueberry, di dalam adonan sawut.
Karena dipasarkan di sekitar kampus UGM, Sawut dikemas cantik dengan plastik mika bening yang dilipat seperti amplop, dan di bagian tengahnya direkatkan dengan sticker Sawuri sebagai label. FN 10
- See more at: http://www.fastnewsindonesia.com/article/usaha-kue-tradisional-modifikasi-makin-diburu#sthash.uvRUX0DC.dpuf