Laman

  • Home

Jumat, 18 Desember 2015

Terkait MEA, Seharusnya SME Development Center-nya Tingkat ASEAN

Helicopter View : Build ASEAN SME Development Center

Sebenarnya Takut MEA Bukan Hanya Sekedar Milik UMKM Indonesia

Untuk perusahaan yang berskala besar MEA adalah peluang yang besar dalam memasarkan produk mereka karena mereka telah memiliki kemampuan menembus pasar global dan juga memiliki kualitas dan kapasitas yang memadai. Tetapi untuk skala UMKM, bisa dimaklumi jika sebagian UMKM kita masih ada yang khawatir dengan mulai diterapkannya MEA ini.

Sebenarnya ketakutan ini bukan hanya sekedar milik UMKM Jawa Tengah maupun UMKM Indonesia, ketakutan yang sama juga dialami oleh UMKM di negara-negara tetangga. Mereka juga khawatir pasar mereka diserbu oleh produk UMKM dari negara tetangga. Dan pemerintah masing-masing negara pun mulai menerapkan strategi pembinaan yang sama untuk meningkatkan daya saing produk dan daya saing pasar.

Berdiskusi dengan beberapa UMKM Melayu di Singapura dan Malaysia, mereka pun mengalami ketakutan yang sama. Bahkan mereka menganggap bahwa di Jawa Tengah pembinaan dan pengembangan UMKMnya sedemikian gencarnya, termasuk bagaimana ketika kami mencoba "menggedor" pasar mereka, mereka menjadi semakin khawatir. 

Dalam kondisi ini, justru berbeda dengan para "pedagang atau trader", dengan MEA ini justru mereka mendapatkan lebih banyak ruang untuk pasar. Hanya saja fokus pemerintah masing-masing negara adalah UMKM produsen, bukan UMKM pemasar. Di Indonesia sendiri UMKM pemasar atau pedagang seolah tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah, padahal mereka inilah yang seharusnya didukung untuk menggedor pasar di negara ASEAN lain.

Ide Rumah UMKM Untuk Membuat Skala Pembinaan UMKM Yang Lebih Besar di ASEAN. 

Dalam mempersiapkan MEA, setiap negara sibuk membangun "kotak"-nya masing-masing bahkan mereka sampai lupa bahwa tujuan MEA adalah unutk membangun basis produksi dan basis pasar di ASEAN. Seharusnya yang paling penting untuk dibangun adalah skala pembinaan dan pengembangan UMKM di tingkat ASEAN untuk memberikan jaminan "kesetaraan" kemampuan produksi dan perluasan kapasitas produksi di samping untuk memperluas jaringan pasar.

Ide ini sudah kami lontarkan kepada partner kami yang ada di Singapore,  yang sangat ahli dalam edukasi baik untuk UMKM maupun perusahaan besar dan berskala internasional, dan mendapatkan tanggapan positif untuk bersama-sama membangun konsep kerja atas ide kami tersebut. 

Saat ini yang terjadi adalah beragamnya kualitas kemampuan kerja dan kualitas produk yang ada di UMKM, yang membuat kami kesulitan dalam memasarkannya. Ada yang sudah berkualitas bagus, tetapi tidak punya kapasitas dan sebaliknya. Hal ini perlu mendapatkan perhatian yang lebih dari pemerintah dan penggiat UMKM lainnya. 

Pasar ASEAN memang besar, tetapi untuk menjadi produk berskala global yang bisa diterima di benua lain adalah jauh lebih penting jika memang tujuannya adalah ASEAN ini menjadi "pemain ekonomi besar" di dunia.

Ide kami ini pastinya tidak akan berarti jika masing-masing negara tidak mendukung program ini, tetapi kami sudah mempertimbangkan ini dan kami memiliki mitra kerja yang benar-benar swasta murni sehingga memiliki kemandirian yang tinggi dan tidak tergantung pemerintah.