Laman

  • Home

Rabu, 13 Juli 2016

Ada Budaya Belanja Yang Sedang Dibangun, Oleh eCommerce

Belanja Online
 
Tantangan terbesar yang dihadapi oleh penyedia market place dan pelaku eCommerce adalah "merubah" kebiasaan belanja offline menjadi online. Secara teknologi, peluang bisnis ini sangat terbuka dan menjanjikan mengingat bahwa hampir semua tangan sudah menggengam smart phone dan berbelanja melalui gadget sudah dibuat sedemikian mudahnya.

Tetapi ada satu hal yang menjadi kendala, yaitu "kepercayaan" dan selanjutnya membangun "kebiasaan" berbelanja online. Jika dicermati akhir-akhir ini, banyak penyedia eCommerce melakukan promosi yang "ugal-ugalan" dengan discount besar-besar, bebas biaya pengiriman dan bahkan obral voucher belanja. Nah, apa yang mereka cari sebenarnya ? Jelas bahwa biaya promosi yang dilakukan oleh penyedia eCommerce besar ini tidaklah murah, dan boleh dibilang "luar biasa" besar bahkan mungkin melebihi budget promosi offline.

Membangun Sebuah Kebiasaan

Ada pepatah Jawa yang mengatakan :"Witing Tresna Jalaran Saka Kulina." yang artinya kecintaan berawal dari kebiasaan. Merubah mindset dan kebiasaan memang dibutuhkan usaha yang besar karena tidak hanya waktu yang dipertaruhkan melainkan juga biaya dan energi yang ekstra. Bisnis online adalah bisnis masa depan, yang sangat diyakini oleh pelakunya bahwa pada saatnya akan tiba porsi belanja online akan melebihi belanja offline.

Hal mendasar yang sedang dibangun para penyedia eCommerce adalah bagaimana membangun sebuah kepercayaan atas eCommerce yang dimilikinya. Berbagai applikasi kemudahan dan layanan yang aduhai dibangun untuk tujuan membuat konsumen percaya. Aksi-aksi gila pun bermunculan untuk membuat layanan yang di luar ekspektasi konsumen. Konsumen dimanjakan dengan fitur-fitur belanja yang mudah dengan berbagai alat bayar yang kadang "sangat" kreatif. 

Penyedia layanan eCommerce sadar benar bahwa kepercayaan konsumen terletak pada bagaimana membuat uang mereka "selamat" atas segala "kesalahan" yang mungkin terjadi dalam eCommerce, baik kesalahan atas produk maupun kesalahan layanan pada penyedia eCommerce. Untuk menyelamatkan uang konsumen, banyak kreativitas fitur pembayaran yang dibangun misalnya kartu kredit, voucher, poin reward dan sebagainya. 

Ketika konsumen yakin bahwa uang mereka akan selamat atau akan tergantikan dengan "produk" yang mereka harapkan maka, kepercayaan atas layanan eCommerce akan mulai terbangun. Kemudian bagaimana membangun pengalaman selanjutnya adalah permasalahan kedua dari penyedia eCommerce. Berbagai strategi keterkaitan antara pembelian pertama dan selanjutnya juga merupakan tantanngan kreativitas bagi penyedia eCommerce. Bagaimana membuat konsumen percaya pada pembelian pertama, dan ingin melakukan yang kedua dan seterusnya merupakan tantangan "kinerja" dari sebuah eCommerce.

Ketika pengalaman baik atas suatu eCommerce sudah mulai terbangun, dan pengalaman "jelek" bisa diatasi dengan baik maka "kebiasaan" akan mulai muncul dari satu konsumen ke konsumen selanjutnya. Dan ketika hal ini meluas makan "budaya" belanja online akan terbangun, dan inilah tujuan dari penyedia eCommerce, dan saat itulah bisnis eCommerce akan berjalan dengan baik. Memang penyedia eCommerce dituntut untuk memiliki visi yang jauh ke depan dengan pemikiran saat ini yang sudah digital.

Digitalisasi Membuat Batas Negara Tidak Berlaku

Globalisasi adalah digitalisasi, dan hal ini sudah diyakini benar oleh pelaku perdagangan online. Sebut saja Alibaba.Com, eBay, Amazon dan sebagainya, mereka sudah mendunia dengan layanan eCommercenya. Meskipun begitu membangun mindset perdagangan global itu mudah kepada UMKM tidaklah sedemikian mudahnya melakukan klik di komputer dan gadget, perlu upaya "ekstra" untuk menyakinkan UMKM atas kehebatan teknologi saat ini. Dan itulah yang kami hadapi ketika mencoba memperkenalkan layanan eCommerce GetAsean.Com kepada UMKM di Jawa Tengah.

Langkah awal kami terkendala dengan kondisi pemahaman dan mindset yang offline, meskipun secara perlahan-lahan kami mulai bisa menyakinkannya. Beberapa pelaku UMKM yang berorientasi ekspor dan sudah memiliki kemampuan ekspor sudah mulai mendaftarkan diri di GetAsean.Com. 

GetAsean.Com akan menarik jika banyak pilihan produk unggulan yang menarik di dalamnya. Dan perlu diingat bahwa ekspor tidak harus bicara volume yang besar seperti harus 1 kontainer, melainkan cukup beberapa kg selama produk tersebut terkirim ke luar daerah kepabeanan Indonesia maka pelaku UMKM sudah melakukan ekspor.

Hal ini sebenarnya sudah banyak dilakukan oleh pelaku toko online di Jawa Tengah, mereka kirim barang ke SIngapura, Malaysia, Hongkong dan sebagainya. Mereka sudah ekspor dan mungkin tanpa menyadarinya. Nah, tugas kami sekarang adalah secara perlahan-lahan meningkatkan volumenya dan meningkatkan frekwensinya. 

Kendala yang dihadapi oleh pelaku UMKM yang utama adalah: produk mereka belum sesuai dengan standard kualitas dari negara pembelinya, aturan dan persyaratan yang berlaku di negara pembeli, prosedur ekspor yang rumit menurut pelaku UMKM dan sistem pembayaran yang aman. Jika permasalahan tersebut bisa terpecahkan maka gelombang ekspor UMKM akan mulai berlangsung. 

GetAsean.Com perlahan-lahan memulai tahapan-tahapan memecahkan masalah tersebut dengan cara yang digital, cara yang semakin mudah dalam melakukan ekspor. Pelatihan dan konsultasi dilakukan oleh Rumah UMKM termasuk promosi dan pemasarannya, penyediaan fitur asuransi gagal bayar, pembiayaan, transportasi yang mudah dan murah dan sebagainya disediakan oleh GetAsean.Com dalam rangka membantu pemerintah dalam mendongkrak "UMKM ekspor atau UMKM Go Internastional".

Selanjutnya apakah Anda masih menggunakan cara-cara konvensional ? Cobalah akrab dengan kemajuan teknologi.