Laman

  • Home

Sabtu, 21 November 2015

Kisah Inspiratif Generasi Ketiga Sido Muncul

Mengintip Kesuksesan Generasi Ketiga Sido Muncul
 
Reporter : Rohimat Nurbaya | 22 Oktober 2015 07:03
Irwan Hidayat penerus Sido Muncul generasi ketiga (Foto: bloomberg.com)
Saat ini Irwan berada pada peringkat 44 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai US$600 juta Rp9 triliun.
Money.id - Irwan Hidayat, merupakan generasi ketiga pemilik Sido Muncul. Pada 1972 dia diwarisi perusahaan dalam keadaan tidak menguntungkan. Irwan jadi penerima tongkat estafet kepemimpinan perusahaan itu dari ayahnya setelah diwarisi pendiri, Ny Rakhmat Sulistyo.

Saat itu, perusahaan menanggung utang dan hampir tidak memiliki aset berarti. Utang bahan baku saja setara 30 bulan omzet perusahaan. Kemudian aset pabrik hanya 600 meter persegi tanpa ada sebuah mesin pun. Sebagai bisnis keluarga dikelola turun-temurun, Irwan mencoba bertahan menghadapi pasang surut bisnis jamu.

Dia percaya ada titik terang pada industri jamu. Sebab jamu merupakan warisan nenek moyang mendarah daging di hati segenap masyarakat Indonesia.

Berusaha Bangkit

Irwan menyadari ada beberapa kesalahan dilakukan Sido Muncul. Pada 1993 dia dapat pelajaran sangat berharga dari orang gila. Dengan terus terang orang gila itu mengatakan jamu Sido Muncul pahit dan tidak enak. Kemudian Irwan berpikir keras membuat jamu suapaya disukai banyak orang.

Pada 1997 kepolosan Irwan soal bisnis membawanya pada keberuntungan. Ketika itu banyak industri dan pelaku usaha terseok-seok dihantam badai krisis ekonomi Indonesia. Tapi Sido Muncul justru membangun pabrik jamu modern dengan sertifikasi industri farmasi.

Saat itu Sido Muncul tidak memiliki utang dalam dolar Amerika Serikat. Di tengah badai krisis ekonomi, perusahaan tersebut menghabiskan total uang Rp30 miliar untuk pabrik. Pabrik tersebut dibangun di lahan seluas 32 hektar. Di areal itu juga ikut dikembangkan sarana agrowisata seluas 1,5 hektar. Laboratorium Sido Muncul dibuat dengan standar farmasi, dibangun pada lahan seluas 3.000 meter persegi. Biayanya Rp2,5 miliar.

PT Sido Muncul kini memiliki 150 item produk jamu baik bermerek maupun generik. Didukung kelengkapan infrastruktur pabrik dan beragam produk, Irwan hanya tinggal menggenjot pemasaran.

Blusukan

Meski menjabat sebagai direktur perusahaan, Irwan tidak segan blusukan ke pasar tradisional. Cara itu dilakukan supaya mengetahui peta pasar produk Sido Muncul. Dia mengecek langsung guna memahami persoalan muncul di lapangan.

Irwan juga kerap berdialog dan bertatap muka langsung dengan para pedagang dan penjaja jamu gendong di pasar tradisional.

Dengan keuletan, Irwan berhasil membawa Sido Muncul menembus pasar Hongkong, dia juga bertekad masuk pasar Tiongkok. Impiannya, membuktikan bahwa produk Indonesia lebih baik dari dari produk di negeri Tirai Bambu itu.

Kerja keras Irwan membangun Sido Muncul membuahkan hasil. Usaha itu membawa dia jadi pendatang baru dalam daftar orang terkaya di Indonesia.

Dirilis majalah Forbes pada 2014, Irwan berada pada peringkat 44 orang terkaya di Indonesia dengan total kekayaan mencapai US$600 juta atau setara Rp9 triliun.

Logo

Ada yang menarik di balik logo Sidomuncul. Sejak berdiri, logo Sido Muncul tidak pernah berubah. Gambarnya, anak kecil sedang digendong seorang wanita. Ternyata logo itu Irwan kecil sedang digendong neneknya. Saat itu dia dikenal rewel dan baru berhenti menangis ketika ditimang nenek.

Saat itu, foto pendiri jadi logo perusahaan sedang tren. Beberapa perusahaan jamu lain seperti jamu Nyonya Item, Nyonya Kembar dan Nyonya Meneer menggunakan gambar hampir mirip. Ketika hendak memberi logo pada perusahaan jamu Sido Muncul, sang nenek berpikir kalau fotonya dan suami yang dipasang kelihatan aneh. Maka sebagai cucu paling dekat foto Irwan dipilih sebagai pendamping.


Kisah ini kami sampaikan kepada teman-teman UMKM bahwa cerita indah keberhasilan seseorang ternyata juga dirangkai dari cerita pahit mengenai kesulitan-kesulitan yang dialaminya. Keberanian Sido Muncul saat berinvestasi dalam kondisi krisis perlu dicermati oleh teman-teman UMKM semua, bahwa kondisi krisis merupakan peluang untuk berintrospeksi kelemahan dan kekurangan diri dan juga merupakan kesempatan untuk melakukan ancang-ancang untuk kondisi setelah krisis.