Laman

  • Home

Senin, 16 November 2015

Akhirnya Perlambatan Ekonomi Berdampak Juga Pada Omzet UMKM

Sekitar 3 bulan terakhir ini secara rutin kami melakukan pemantauan kepada teman-teman UMKM produsen, toko online, pasar modern, pasar tradisional, kurir dan ekspedisi dan ternyata hasilnya mengindikasikan adanya "penurunan" omzet pada hampir semua UMKM yang kami temui, bahkan kurir terbesar pun mengindikasikan penurunan omzet pengiriman. Hal serupa juga terjadi dengan beberapa toko kecil, pasar modern dan pasar tradisional yang juga mengindikasikan hal yang sama. 

Apakah hal ini merupakan dampak dari perlambatan ekonomi yang terjadi saat ini ? Yang oleh Bank Indonesia juga dikuatkan dengan informasi mengenai menurunnya peredaran jumlah uang di dalam negeri. Apakah ini merupakan indikasi menurunnya jual beli masyarakat atau masyarakat hanya sekedar "berhemat" untuk menghadapi kondisi yang lebih tidak menentu di masa mendatang ?




Kami tidak menguasi kajian ekonomi makro sehingga kami hanya bisa menyodorkan data-data sebagaimana di atas bahwa memang benar adanya di Indonesia terjadi perlambatan ekonomi. Melambatnya pertumbuahan uang yang beredar kami sikapi dengan pemahaman "menurun"-nya transaksi yang akhir-akhir ini kami rasakan. 

Belum lagi fakta bahwa sudah banyak perusahaan besar yang melakukan rasionalisasi SDM dan bahkan banyak di antaranya sudah melakukan tutup operasi.

Pedagang makanan kaki lima pun mengeluhkan "adanya" penurunan penjualan mereka, beberapa kurir yang melayani toko online juga mengeluhkan hal serupa bahkan reaksi dari sebuah iklan penjualan sepeda motor sangat sedikit dibandingkan dengan 3 bulan sebelumnya. Biasarnya iklan penjualan sepeda motor di media cetak yang terkenal mendapatkan tanggapan antusias dari beberapa penelpon.

Inilah gambaran sederhana mengenai dampak perlambatan ekonomi yang terjadi di kalangan UMKM, kami tidak tahu pasti apakah hal ini bersifat hanya "sementara" waktu atau bahkan akan berlanjut lebih buruk lagi.

Di dunia online pun persaingan antara penyedia market place juga sangat ketat, menyebabkan banyak penyedia market place mengumbar promosi yang luar biasa dahsyat tanpa mengindahkan dampaknya kepada toko online yang kecil-kecil. Pelaku toko online kecil yang menjual produk fashion juga sudah lebih dahulu merasakan dampak menurunnya penjualan mereka. Penjualan produk bahan makanan online pun mengalami penurunan, meskipun tidak sedrastis produk fashion.

Menyikapi hal ini kami terus memotivasi UMKM kami untuk terus berinovasi dan mereview proses yang lebih efisien lagi agar mampu menghasilkan produk dengan biaya yang lebih murah dan mampu terjangkau oleh masyarakat. Dalam hal ini kami memang mempertimbangkan adanya penurunan daya beli masyarakat dan harus kami sikapi dengan inovasi pada efisiensi proses, efisiensi volume (ukuran) dan eksplorasi bahan baku. 

Sebagaimana pengalaman masa lalu, saat terjadi krisis justru produk-produk inovatif dari UMKM menjadi "pilihan" bagi industri dan masyarakat karena pertimbangan "murah". Semangat mengekplorasi produk lokal pun akan tumbuh dengan kreativitas dan inovasi yang lebih tinggi. Penurunan omzet yang terjadi pada UMKM saat ini kami harapkan hanya "kejutan" sementara saat memasuki tahapan baru, yang selanjutnya akan kami harapkan menjadi "titik balik" dalam mengekplorasi produk-produk UMKM.