Laman

  • Home

Rabu, 14 Oktober 2015

Ketekunan Berbuah Kesuksesan, Ratidjo - Rumah Makan Jejamuran

Satu Kesempatan Bersama Pak Ratidjo, Pemilik Rumah Makan Jejamuran Yogyakarta

Pak Ratidjo memulai belajar tentang jamur sejak tahun 1968, beliau belajar dari orang Taiwan, negara pusat mengembangan jamur pada waktu itu. Dimulai dari perusahaan jamur di Dieng bernama Dieng Jaya yang pernah menjadi klien saya sewaktu masih bekerja di perusahaan pelayaran, yang memiliki  7.000 karyawan dan memproduksi jamur untuk tujuan ekspor ke berbagai negara, tetapi perusahaan ini sudah tutup operasi sudah lama. 

Sejak saat itu Pak Ratidjo memulai usaha budi daya jamur sendiri di daerah Yogyakarta, dan memulai usaha rumah makan Jejamuran yang saat ini dipegang oleh anak-anaknya. Rumah Makan Jejamuran dimulai dari satu meja di pinggir jalan, pelanggan pertama jejamuran adalah para sopir truk yang lewat dan bapak petani yang pulang dari sawah, waktu itu tahun 1997, kenang Pak Ratidjo. Secara Rumah Makan Jejamuran dibuka pada tahun 2006 lalu dan sekarang menjadi salah satu tujuan kuliner utama di Yogyakarta.

Etos Kerja - "Kalau bekerja jangan nunggu disuruh."

Dari cerita beliau terlihat jelas motto hidup dan idealisme dalam bekerja. Karyawan Jejamuran setiap hari pada pukul 08.00 dibriefing tentang tugas-tugasnya hari itu. Dari tukang parkir sampai koki. Setiap karyawan dikondisikan untuk mencintai perkerjaannya, tahu akan tanggung jawab masing masing. “Jadi kalau bekerja tidak nunggu disuruh” kata Pak Ratidjo.

Memilih Karyawan Rumah Makan Jejamuran

"Daripada bekerja sebagai penambang pasir, mereka saya berikan pilihan yang lebih baik untuk bekerja ditempat saya, saja ajak ngobrol kebutuhannya apa, saya akan coba memenuhi."

Secara gamblang Pak Ratidjo menjelaskan bahwa bekerja di Jejamuran tidak untuk karir. Banyak lulusan tata boga keluar masuk bekerja di jejamuran, tidak ada yang bertahan lama.

Maka dari itu beliau mencari karyawan restonya dengan cara unik. Karena di sekitar daerah tersebut banyak sekali orang yang mengangkut pasir untuk mata pencahariannya, maka orang-orang tersebut diajak ngobrol Pak Ratidjo untuk bekerja ditempatnya. “Daripada bekerja sebagai pengangkut pasir, mereka saya berikan pilihan yang lebih baik untuk bekerja ditempat saya, saja ajak ngobrol kebutuhannya apa, saya akan coba memenuhi”.

Begitupun juga dengan koki-koki dan juru masak, tidak ada yang lulusan tata boga. Sebagian besar juru masaknya adalah ibu-ibu dari desa sekitar yang ditinggal suami dan mempunyai anak sebagai tanggungan. Pendekatan yang dilakukan sama dengan karyawan yang lain, diajak ngobrol tentang kebutuhan dan tanggung jawabnya. Sampai sekarang, kesejahteraan karyawan jejamuran semakin membaik, selain karena pengunjung yang semakin banyak, sudah pula diterapkan asuransi jiwa untuk setiap karyawan sehingga mereka lebih nyaman untuk bekerja.

Di atas adalah sekelumit cerita mengenai Rumah Makan Jejamuran yang sudah cukup banyak dikenal oleh wisatawan yang pernah mengunjungi Yogyakarta. Modalnya Pak Ratidjo adalah ketekunan pada satu bidang yang beliau kuasai dengan benar, memolesnya dengan cara yang modern sehingga menghasilkan bisnis yang menguntungkan dan bisa diturunkan kepada anak-anaknya. 

Saya sendiri mengagumi "cita rasa" rumah makan ini yang "tidak main-main" walaupun juru masaknya bukan dari orang yang ahli masak sebelumnya, kuncinya adalah edukasi dan komunikasi dari pemilik usaha kepada karyawannya yang berjalan baik. Untuk edukasi saya merasakan sendiri betapa Pak Ratidjo "tidak pelit" memberikan ilmu-ilmu bisnisnya kepada saya baik ilmu budidaya jamur maupun ilmu restonya. Semua sederhana, yang penting fokus dan tekun dalam mengerjakannya.

Ketika saya bertanya mengapa tidak banyak membuka cabang ? Adalah karena beliau merasa belum mampu memenuhi kebutuhan bahan baku yang semuanya adalah dari hasil budi dayanya sendiri, karena beliau harus menjamin pelanggan mendapatkan kualitas yang terbaik. Jika nanti hasil budidaya jamurnya sudah memadai maka kemungkinan ke arah sana pasti ada, apalagi bisnis restonya saat ini sudah dipegang oleh anak laki-lakinya.

Ketekunan berbuah kesuksesan, itulah kira-kira yang bisa saya pelajari dari beliau. Meskipun saya melihat bahwa beliau juga kreatif dan inovatif dalam mengembangkan produk baik produk budidaya berbagai macam jamur maupun kreativitas menu makanan di restonya. Selamat Pak Ratidjo, sukses selalu usahanya !