Laman

  • Home

Kamis, 17 September 2015

Theory Saja Tidak Cukup, Konsultan Bisnis Harus Merasakan Punya Usaha Sendiri

Konsultan Harus Bisa Juga Memberikan Best Practise-nya Kepada UMKM
Pembinaan UMKM merupakan trending topic di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Pelaku pembinaan tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga dari asosiasi-asosiasi yang ada di Indonesia. Bahkan pemerintah memiliki anggaran yang besar untuk pembinaan UMKM sebagai akar perekonomian negara. Terbukti usaha kecil memiliki resitansi yang tinggi terhadap krisis-krisis yang terjadi di Indonesia sebelumnya.

Klinik Bisnis

Selain seminar, diskusi dan workshop, saat ini "klinik bisnis" banyak diminati oleh penggiat UMKM dalam memberikan layanan pembinaan kepada UMKM. Kualitas klinik bisnis ini ditentukan oleh spesiaslisasi yang diambil dan kemampuan dari konsultan bisnisnya. Seorang konsultan diharapkan adalah orang-orang yang sebelumnya pernah mengalami kegiatan-kegiatan praktis pada bidangnya, sehingga bisa memberikan tips dan best practise kepada UMKM karena theory mentah kadang sulit dicerna oleh UMKM dalam prakteknya di lapangan.

Pengalaman praktis seorang konsultan merupakan masukan dan panduan yang riil dalam pengambilan keputusan bagi UMKM, bukan merukan masukan trial and error yang kadang malah menimbulkan kerugian-kerugian di pihak klien.

Menurut kamus bahasa Indonesia:

Konsultan adalah ahli yg tugasnya memberi petunjuk, pertimbangan, atau nasihat dalam suatu kegiatan (penelitian, dagang, dsb); penasihat.

Paktisi didefiniskan sebagai pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan.

Dari definisi terlihat jelas, bahwa seorang Konsultan adalah seseorang yang tugas utamanya adalah memberikan pertimbangan terhadap kebijakan atau malah menyerankan sebuah kebijakan dalam suatu kegiatan pun organisasi. bisa dikatakan seorang konsultan adalah seorang staff ahli, sebagai “Orang Pintar” yang sering dijadikan tempat untuk bertanya. Dalam prakteknya, seorang konsultan tidak dituntut memiliki pengalaman melakukan apa yang dia sarankan, yang penting saran yang dikeluarkan acceptable dan bersifat menguntungkan dari sisi kebijakan strategis. Yang mungkin jadi pra Syarat utama seorang konsultan adalah memiliki pengetahuan yang cukup sebagai justifikasi terhadap saran-saran yang dia keluarkan.

Sebagai tambahan, menurut Bapak Riri Satria dalam tulisannya, “konsultan itu dibutuhkan bukan hanya karena kompetensi mereka (akumulasi pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan) tetapi juga karena posisi mereka yang dianggap netral sebagai orang luar sehingga diharapkan sanggup melihat persoalan secara jernih di dalam sebuah perusahaan karena mereka tidak punya kepentingan.”

Namun ada penyakit yang mungkin dimiliki oleh sebagian konsultan, yaitu bahwa mereka merasa lebih mampu dan lebih kompeten  dalam hal tertentu sehingga memiliki kecenderungan untuk memaksakan apa yang mereka ketahui kepada klien. Bagi klien yang masih “polos”, hal ini mungkin bisa berhasil, tapi untuk klien yang memiliki latar belakang pengetahuan yang cukup baik, hal ini bisa menjadi senjata makan tuan, bahkan tujuan utama konsultasi tersebut bisa gagal total, karena tarik menarik antara ego konsultan dengan keinginan pelaku UMKM, padahal yang paling mengetahui permasalahan, kebutuhan dan keadaan internal adalah pelaku UMKM, bukan konsultan.

Untuk Praktisi, sesuai dengan definisi adalah pelaksana atau orang yang biasa melaksanakan. Bahkan banyak seorang praktisi yang sangat berpengalaman di bidang tertentu bisa menjadi seorang konsultan yang sangat handal, karena pengetahuan lapangan yang mereka miliki yang kadang tidak dimiliki seorang konsultan yang backgroundnya bukan seorang praktisi. Lihatlah Warren Buffet, Bob Sadino, Ono W Purbo, adalah orang-orang yang berlatar belakang praktisi yang menjelma menjadi panutan di bidangnya masing-masing, dan pendapatnya banyak diikuti oleh banyak orang. bisa dikatakan, mereka adalah konsultan sekaligus praktisi yang sangat berhasil.

Konsultan-konsultan yang bergerak dari seorang praktisi mayoritas bisa lebih berhasil dalam implementasi saran-sarannya di perusahaan atau tempat-tempat yang memerlukan perbaikan atau pengembangan organisasinya, karena apa yang mereka sarankan berdasarkan pengalaman-pengalaman dilapangan yang kadang tidak didapatkan dibangku pendidikan.

Theory saja tidak cukup.

Pelaku UMKM berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, jika dari mereka latar belakang pendidikannya kurang tinggi pasti mereka akan dengan serta-merta menelan mentah-mentah apa yang disarankan oleh seorang konsultan, berbeda dengan yang mengenyam pendidikan lebih tinggi dan sudah menjalankan usahanya dengan cukup waktu, mereka akan menjadi partner debat saat konsultasi dengan konsultan bisnis UMKM yang bahkan belum pernah mengawali bisnis atau menjalankannya.

Inilah pentingnya memilih konsultan bisnis bagi UMKM yang bisa memberikan best practise dari pengalaman usahanya, sehingga best practise itu bisa didiskusikan dengan lebih baik dengan kliennya dan menghasilkan solusi yang bisa dipahami dan bisa diapplikasikan oleh pelaku UMKM di lapangan. Menjejali pelaku UMKM dengan theory-theory yang belum pernah terbukti kebenarannya bukannya malah membantu UMKM menemukan solusi dari masalahnya, justru akan menambahkan masalah baru dalam perjalanan usahanya.

Yang dibutuhkan oleh pelaku UMKM adalah sebuah "contoh praktek" yang pernah dilakukan oleh "pendamping" usahanya, bukan theory mentah yang belum pernah terbukti kebenarannya. Oleh sebab itu perlu sekali konsultan-konsultan bisnis UMKM juga distimulasi untuk terjun ke bisnis usaha kecil agar bisa ikut merasakan masalah "apa" yang dihadapi oleh UMKM dan "bagaimana" cara mereka memecahkan masalahnya. Kadang pelaku usaha sendiri pun sulit "memceritakan" permasalahan yang sebenarnya terjadi karena keterbatasan kemampuan komunikasinya.