Laman

  • Home

Kamis, 24 September 2015

Sudah Saatnya Setiap Rumah Tangga Punya Usaha

Perkembangan teknologi saat ini benar-benar membuat semua kemungkinan yang dulu dianggap "sulit" sekarang bisa menjadi nyata. Dunia teknologi informasi yang sudah sedemikian canggih, bisa menghubungkan setiap orang dalam hitungan detik, bisa mendapatkan segala macam informasi dengan cukup di hadapan komputer atau smart phone. Semuanya serba mudah, semuanya serba praktis, seolah dunia dibuat sedemikian kecilnya sehingga bisa tergenggam oleh kita.

Lantas teknologi yang sedemikian itu apakah sudah kita manfaatkan ? Sudahkan kita berpikir digital dan berwawasan global ? Nah, inilah masalahnya. Masyarakat masih "nyaman" dengan kondisi-kondisi bahwa apa yang harus mereka lakukan adalah apa yang bisa mereka lihat, mereka sentuh, atau dengan kata lain semua harus "nyata" di hadapan mereka.

Tidak, dunia telah berubah. Kita harus memahami bahwa dunia kita saat ini merupakan perpaduan dunia nyata dan dunia maya. Yang nyata bisa kita mudahkan dengan teknologi maya, dan yang maya saat ini sudah seolah nyata. Itulah kenyataannya, kenyataan yang harus kita terima saat ini sebagai dampak dari perkembangan teknologi.


Bekerja di Rumah, Tidak Perlu Kantor.

Pola pikir orang sebelumnya adalah, bekerja harus ada kantor ada karyawan dan harus berpakaian layaknya seorang pegawai. Sebuah pola pikir yang pelan-pelan mesti dirubah, sudah banyak contoh dari kita yang bekerja di rumah tanpa harus memiliki kantor, mereka adalah para blogger, pemilik toko online, para pemasok You Tube dan sebagainya.

Dengan teknologi mereka bisa melakukan semua pekerjaan di rumah, dengan perangkat dan applikasi komuper dan android saat ini mereka bisa mencari nafkah.  Yang jelas, pelaku harus akrab dulu dengan yang namanya komputer, gadget dan internet. 

Pelaku pemasaran bisa dengan mudah menjangkau customer mereka dengan sosial media, dengan website dan applikasi lainnya. Para konsultan pun bisa melakukan konsultasi dengan dengan berbasis internet, bahkan lembaga pendidikan pun bisa melakukan edukasi berbasis internet yaitu dengan membuat applikasi e-Learning. Hampir semua bisa dilakukan dengan komputer dan internet.

Memang bidang usaha semacam ini lebih banyak didominasi oleh kalangan berpendidikan, meskipun ada beberapa kalangan dengan pendidikan lebih rendah pun mampu melakukannya asal mau belajar, bekerja keras dan sabar.






Kami pun mengawali usaha dari rumah, dan tidak membutuhkan kantor untuk melakukan aktivitas pekerjaaan semua berbasis internet dan pendukung aktivitas kerja pun kami buat di rumah.

Usaha Produksi di Rumah pun Bisa.

Rumah adalah tempat yang paling cocok untuk mengawali usaha, apalagi dengan keterbatasan modal yang ada. Banyak usaha produksi makanan dan kerajinan berawal dari usaha rumahan, baru setelah skala usahanya berkembang mereka berpikir untuk membuat fasilitas produksi yang lebih besar di luar rumah. Tetapi pada dasarnya, usaha itu harus dimulai dari rumah tangga.

Beberapa usaha yang bisa dilakukan di rumah adalah usaha cake & bakery, usaha kuliner lainnya, usaha kerajinan dan usaha lain yang bukan bersifat massal. Yang jelas untuk usaha rumahana, pelaku usaha harus memahami bagaimana mereka mampu membuat "nilai tambah" dari produk yang mereka kerjakan di rumah tersebut. Nilai tambah ini berdasar pada kreativitas dan inovasi yang mampu mereka lakukan di rumah.

Indonesia memang selalu menang dalam hal sumber daya alam, hampir semua ada di Indonesia, tetapi masalah kreativitas dan inovasi kita mesti banyak belajar dan butuh waktu untuk membangunnya. Indonesia hanya kalah dalam kedua hal tersebut, kreativitas dan inovasi !




Jika setiap rumah tangga mampu menghasilkan produk yang inovatif dan berkualitas, maka bisa dibayangkan betapa Indonesia akan menjadi SUPER supplier bagi Indonesia sendiri maupun bagi internasional.

UMKM berawal dari usaha Rumah Tangga, bagaimana menumbuhkan kewirausahaan adalah dengan bagaimana kita mampu mengajak setiap Rumah Tangga berdaya dan setidaknya mampu menghasilkan satu produk, bukan lagi OVOP (One Village One Product) tetapi One Home One Product.

Mari bangun ekonomi negeri ini dari unsur terkecilnya, Rumah Tangga !