Laman

  • Home

Sabtu, 15 Agustus 2015

Jika Saja Waktu Bisa Kuputar Kembali

Berlatih bekerja dari dini.

Jika waktu dapat diputar kembali pastilah saya ingin kembali ke masa lampau dan belajar banyak apa yang saya sadari sekarang dari sejak masa kanak-kanak. Tetapi jelas itu tidak mungkin. Jatuh bangun dari bawah naik dan jatuh lagi mengajarkan saya untuk selalu belajar apa yang terbaik bagi hidup saya sekarang dan kelak.

Bahwa hidup bagaikan roda itu adalah benar adanya, kadang kita mengalami masa "jaya" dan kadang juga mengalami masa "introspeksi". Semuanya adalah dalam konteks pembelajaran dan pendewasaan  diri. Mudahnya hidup ketika kita berkecukupan, sering mengurangi "kadar" pembelajaran kita sementara ketik kita jatuh dan merangkak dari bawah membuat kita "kaya" akan kesadaran dan pembelajaran. 
Sampai akhirnya saya menyadari bahwa asset yang terbaik dari diri kita adalah diri kita sendiri dan ilmu yang kita dapat dari pengalaman, dan ketrampilan yang kita miliki.

Belajar Masak Sejak Dini

Cooking is Fun

Karena tidak mungkin saya bisa memutar waktu kembali, maka apa yang menjadi pelajaran saya di masa lalu akan saya coba ajarkan kepada anak saya untuk belajar dari sejak awal, belajar atas apa yang dia senangi dan belajar bagaimana kita bisa berbagi.

Kami tidak bisa menjanjikan sebuah "masa depan" baginya, yang bisa kami janjikan adalah bahwa kami bisa ajarkan apa yang telah kami pelajari dengan "masa" yang terlambat kami pelajari kepadanya untuk bisa belajar lebih dini daripada kami.

Yang ideal, hobby bisa menjadi bisnis kita.
 
Merangkak hidup dari nol membuat saya memiliki banyak keterbatasan, sampai akhirnya istri saya menayadarkan bahwa dia ingin merintis usaha sendiri ketika melihat kondisi kami yang penuh keterbatasan.  

Awalan usaha tidak semulus apa yang dibayangkan, berbisnis busana karena berlatar belakang sekolah desain busana tidak berjalan dengan baik. Entah karena memang kami buruk menangani bisnis ini atau karena memang kami tidak bisa "sepenuh hati" menjalankannya. Pada akhirnya bisnis ini kami sudahi, dan kami harus mencari alternatif bisnis yang lain. Tidak boleh menyerah, masih ada jalan lain.

Tanpa terasa saya seperti diingatkan dengan apa yang pernah saya pelajari secara otodidak sejak lama, yaitu grafologi dan feng shui, tetapi jarang saya pakai dan praktekkan. Dengan kondisi sekarang, mau tidak mau saya bisa belajar memperdalam grafologi dan feng shui dan juga mencarikan solusi bisnis untuk istri. Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui.

Akhirnya ketemu juga, bahwa istriku memiliki passion yang kuat dalam memasak, hanya saja untuk membuat restaurant kami masih belum mampu. Akhirnya hobby masak ini harus tersalurkan mulai dari melayani pesanan kue kering dan semacamnya. Pada perjalanannya, bisnis ini sangat menyita waktu dan mengungkung waktu kita. Tetapi hal ini harus tetap kami jalankan sampai kami mendapatkan ide lagi untuk berkembang.

Karena hobby menulis di blogspot juga, tanpa terasa apa yang dibuat oleh istri saya ditulis dalam blog-nya dan setelah berselang lebih dari 1 tahun blog tersebut ternyata banyak dibaca orang baik dalam dan luar negeri. Akhirnya blog ini kami belikan domain agar lebih terlihat profesional, maka lahirlah diahdidi.com dan dikelola istri saya sendiri sampai sekarang.

Dari blog inilah istri saya mendapatkan job menulis resep, review resto, review produk, menjadi pembicara, toko online dan pelatihan food fotografi disamping iklan yang dia peroleh dari Google Adsense dan pemasang lain.

Inilah cerita singkat dari hobby masak yang dijadikan bisnis dari istri saya, yang akhirnya juga membawa anak saya untuk ikut menyenangi hobby ini karena kebiasaan dia bergabung dengan ibunya.


Untuk berbisnis kita harus terampil dan ahli. 

Bisnis ibarat adu ketrampilan dan adu strategi, dimana pemenangnya adalah pihak yang unggul dalam keduanya. Keduanya harus kita asah sejak dini, orang yang bisa bisa membawa bisnis ke dalam hatinya (menikmatinya) akan mampu bersaing dengan ketenangan dan menjadikannya sebagai hal yang menyenangkan.

Tantangan bagi penerus kita di masa mendatang akan semakin berat, bukan karena perubahan jaman melainkan juga persaingan yang semakin luar biasa.

Jika dulu kita terlambat belajar menyakini sebuah ketrampilan, saat ini kita bisa menebusnya dan mengajarkannya kepada penerus kita selama penerus kita cocok dan merasa nyaman dengan ketrampilan tersebut. Belajar dari sejak dini memberikan bahwa kesempatan kepada generasi penerus untuk selalu improve dan update ketrampilan dan pengetahuannya. 

Jika orang Jawa menyakini "witing tresno jalaran saka kulina" (rasa cinta berawal dari kebiasaan), maka dengan mengajarkan "asset" itangible kita kepada penerus sejak dini maka akan memiliki banyak peluang si penerus akan mencintai ketrampilan tersebut yang bisa menjadi bekal hidupnya kelak.