Laman

  • Home

Minggu, 30 Agustus 2015

Bicara-Bicara Krisis Ekonomi Kepada UMKM; Apa Bedanya untuk Mereka ?

Akhirnya krisis global sudah mengatur jadwalnya untuk mengunjungi Indonesia, dengan indikasi US$ yang sudah tembus di angka Rp 14.100,- dan gelombang PHK pada industri-industri besar yang bahan bakunya diperoleh dari import, bisa dikatakan bahwa Indonesia telah mendapatkan kunjungan dari krisis global.

Semua media baik online, elektronik dan cetak pun sudah mengabarkan hal yang sama kepada pembacanya bahwa perlambatan ekonomi di Indonesia telah memberikan kesempatan krisis tersebut masuk ke Indonesia. Beberapa industri pertambangan, material building dan consumer good yang sangat tergantung kepada nilai tukar rupiah terhadap dolar sudah mulai melakukan rasionalisasi perusahaan, bahkan beberapa di antaranya sudah menyatakan tutup operasi.

Kebijakan dan kinerja pemerintah yang masih carut-marut memperburuk keadaaan, karena keputusan utnuk intervensi terhadap nilai tukar rupiah tidak kunjung dilakukan. Kinerja ekspor pun pada bulan Juli 2015 menurun sekitar 15% sehingga peluang untuk rebound nilai tukar rupiah semakin sempit, sementara kebutuhan impor bahan baku untuk industri justru semakin naik.

Dengan kondisi neraca perdagangan yang defisit karena lebih banyak import daripada ekspor, sudah barang tentu nilai rupiah akan semakin terpuruk.

Mengapa masih saja impor ?

Untuk produk yang memang belum dan tidak bisa dibuat di Indonesia, impor masih bisa dimaklumi, tetapi untuk produk-produk yang bisa diproduksi di Indonesia karena ada potensi sumber daya alam dan potensi sumber daya manusia pun "tetap" diimpor, maka hal ini perlu mendapatkan tinjauan lebih lanjut apa motivasinya.

Indonesia dikenal sebagai negara dengan sumber daya alam yang melimpah, disamping lebih dikenal sebagai pasar yang besar dan potensial. Adalah janggal, jika prosentase impor bahan baku impor masih saja besar. Kami pun tahu banyak banyak sumber daya alam di Indonesia yang sudah mampu melakukan engineering dan re-engineering mesin-mesin berteknologi tinggi untuk produksi, dan itupun bisa diproduksi di Indensia. Masih ingat dengan nasib Texmaco Perkasa Engineering ? Yang mampu membuat mesin textil, otomotif dan lain sebagainya sendiri. Justru asset ini malah dimatikan karena kepentingan tertentu.

Apakah produk-produk yang diimpor tersebut tidak bisa ditransfer teknologi-kan, dan disubstitusi dengan produk lokal ? Bahkan tempe pun yang merupakan makanan rakyat pun harus diimpor kedelainya. Apakah petani kita tidak mampu menanam varietas kedelei yang dibutuhkan ? 

Memang benar bahwa banyak masyarakat kita lebih menghargai produk impor daripada produk lokal, tetapi kami yakin jika produk lokal mampu "bersaing" kualitas dan harga pasti kecenderungan ini akan bergeser dengan sendirinya. Gerakan mencintai produk Indonesia, Bela dan Beli Indonesia harus mendapatkan dukukungan penuh dari seluruh lapisan masyarakat agar produk lokal bisa "mendapatkan" kesempatan mendapatkan appresiasi dari masyarakat.

Ekonomi berbiaya tinggi di Indonesia

Sudah menjadi rahasia umum bahwa berproduksi di Indonesia terbenani biaya "ini-itu" yang berbiaya tinggi, misalnya: biaya birokrasi yang mahal, bunga bank yang tinggi dan infrastruktur yang belum memadai belum lagi biaya BBM yang semakin berat dan memicu kenaikan-kenaikan bisaya lain.

Biaya produksi ini semakin mahal ketika tingkat produktivitas dari SDM yang masih rendah, tetapi patokan UMR sudah menjadi acuan pengupahan di seluruh daerah. Lengkap sudah belenggu "ketidakmampuan" untuk bersaing di negara ini.


Apa komentar UMKM Jawa Tengah atas krisis ini ?

Bagi teman-teman UMKM di Jawa Tengah, menghadapi krisis ekonomi saat ini adalah tidak ada bedanya dengan keseharian mereka menghadapi ketidakpastian usaha mereka. Mereka bahkan tidak terlalu memikirkannya, selama mereka masih bisa mendapatkan bahan baku produksi, harga tarif listrik untuk produksi yang terjangkau, harga BBM yang terjangkau dan keberadaan pasar.

Toh mereka setiap hari selalu menghadapi krisis kan ? 

UMKM yang memiliki ketahanan tinggi adalah UMKM yang mampu berkreasi dan berinovasi dengan bahan-bahan lokal, bahan yang tidak harus impor untuk mendapatkannya. UMKM yang bisa bertahan adalah UMKM yang tidak terlalu tergantung kepada modal dari perbankan dan lembaga finansial lain, dan UMKM yang paling kuat adalah UMKM yang mampu membangun kreativitas dan inovasi dalam pangan.

Saat krisis tahun 1997-1998, terbukti bahwa usaha kecil di Indonesia mampu bertahan dan memutar roda ekonomi Indonesia dan hal serupa pun mulai terasa saat krisis saat ini, sebagian besar UMKM tidak merasakan krisis ekonomi yang sudah menimpa banyak industri. Mereka lebih diuntungkan oleh skala, sehingga mereka memiliki fleksibilitas yang tinggi dalam badai krisis.

Tolok ukur kami dalam memantau kinerja UMKM

Kami tidak memiliki alat ukur yang canggih dalam memantau kinerja UMKM di Jawa Tengah ini, tetapi kami memiliki jaringan pasar yang bisa memberikan informasi kepada kami mengenai kinerja pasar yang mereka kelola. Teman-teman kami adalah dari market place seperti BukaLapak.Com dan TokoPedia.Com yang hampir semuanya menginsyaratkan kenaikan transaksi justru saat krisis ini terjadi.

William Tanuwijaya, CEO TokoPedia.Com

Achmad Zacky, CEO BukaLapak.Com
Kedua market place ini memang sangat peduli dengan kinerja perdagangan usaha kecil di Indonesia, yang saat ini justru mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Serasa produk-produk UMKM memiliki pasar sendiri di kedua market place ini.

Belum lagi banyak market place lain seperti Jejualan.Com dan Nurbaya.Com yang jelas-jelas menyasar pelaku UMKM sebagai targetnya. Hanya saja kedua market place ini masih belum sebesar BukaLapak.Com dan TokoPedia.Com.

Bahkan Kadin Jateng sendiri pun berupaya memberikan "alternatif" pasar kepada pelaku UMKM Jawa Tengah yang memang menyasar pasar ekspor, dimana nantinya akan lebih terasa sumbangannya terhadap ekonomi Indonesia yaitu dengan GetAsean.Com.

Tetap semangat teman-teman UMKM, krisis terjadi karena kita lupa bahwa Indonesia adalah negara kaya dan Indonesia adalah pasar yang potensial bagi semua negara. Kitalah yang paling berhak atas pasar Indonesia, dan kita bisa mampu hidup dari pasar tersebut.