Laman

  • Home

Minggu, 23 Agustus 2015

3 Tugas Yang Membuat Karyawan Terpicu Menjadi Intrapreneur

Berbicara mindset entrepreneurship tidak harus selalu menghasilkan wirausahawan, mindset inipun bisa dikembangkan dalam membangun mesin yang produktif dan inovatif di dalam perusahaan. Sikap mental dan pola pikir entrepreneurship yang harus dikembangkan adalah sikap kemandirian, kreatif, inovatif dan mampu bersaing.

Saat ini perusahaan-perusahaan besar terutama perusahaan asing telah menerapkan konsep entrepreneurship untuk karyawan yang nantinya lebih dikenal dengan intrapreneurship. Taraf pengembangan SDM yang terbaik adalah taraf wirausahawan, karena pada taraf ini seseorang akan memiliki pribadi yang hebat dan mampu berkinerja tinggi. Penyesuaian manajemen SDM pun dilakukan perusahaan sebagaimana pola pikir "profit oriented" yang akan dicapai oleh SDMnya. Bonus dan insentif akan menjadi komoditas tawar menawar antara manajemen dan karyawan.


Lantas apa yang bisa dilakukan untuk memicu karyawan menjadi intrapreneur ?


Dari pengalaman kami sebelumnya, ada 3 hal yang berhasil membuat kami berpola pikir seperti seorang entrepreneur, yaitu:
  1. Seorang karyawan dituntut secara mandiri mampu "mengembangkan" konsep dan program untuk meningkatkan kinerjanya masing-masing dalam jangka panjang. Pada tahapan ini seorang karyawan akan belajar bagaimana membuat perencanaan jangka panjang atas apa yang akan menjadi target kinerjanya. Dengan tahap ini, kinerja karyawan akan terstruktur dan terencana dengan baik. Output dari tahapan ini adalah paper program (konsep kerja) yang detail dan aplikatif.
  2. Seorang karyawan dituntut untuk bisa "melaksanakan" apa yang telah dia rencanakan, dan melakukan evaluasi secara simultan untuk menyempurnakan dan mengoreksi rencana tertulisnya sesuai dengan kondisi di lapangan. Di sinilah pembelajaran yang paling penting bagi seorang karyawan untuk membandingkan theory dan praktek. Pada tahapan ini, seorang karyawan akan dibawa menjadi seorang "expert" dengan pengalaman praktek atas apa yang dia rencanakan. 
  3. Tahapan ini adalah tahapan tersulit, yaitu karyawan dituntut secara mandiri mampu "membiayai" kegiatannya sendiri. Memang terdengar ekstrim tahapan ini, tapi disinilah kondisi yang dibutuhkan untuk menguji karyawan mampu mengembangkan kreativitasnya dan daya juangnya atas rencana kerja yang telah dia buat. Bukan berarti bahwa perusahaan akan lepas tangan dalam membiayai rencana kegiatan karyawan tersebut, tetapi hal ini perlu dilakukan ketika perusahaan ingin melakukan efisiensi biaya sementara tidak mau kehilangan kinerja perusahaannya. Tidak semua fungsi kerja di perusahaan bisa menerapkan hal ini, mungkin hanya bagian marketing dan promosi saja yang bisa menerapkan tahapan ini.
Ketiga hal tersebut di atas ketika bisa dilaksanakan di sebuah perusahaan, maka dampak peningkatan kinerja perusahaan akan meningkat dengan tajam.

Gaji tergeser oleh bonus dan insentif.

Kondisi ini membawa konsekwensi keuangan kepada perusahaan, yaitu pada masalah bonus dan insentif. Jika program ini dijalankan maka karyawan akan termotivasi pada iming-iming bonus dan insentif dan tidak hanya terpaku pada gaji bulanan saja.

Karyawan yang sudah terbentuk pola pikir intrapreneurshipnya akan melihat bonus dan insentif sebagai imbalan yang fair terhadap kinerjanya sehingga kewirausahaan terbangun dalam perusahaan tersebut. Gaji tidak lagi menjadi tujuan kinerjanya, melainkan bonus dan insentif yang menjadi target "imbalan" dari sebuah kinerja "baru" yang harus dibangun.

Sikap mental seperti ini akan membawa karyawan ke arah yang lebih kreatif dan inovatif serta kemandirian yang luar biasa. Jika dulu orang tabu dengan istilah "perusahaan dalam perusahaan" (negatif), tetapi sekarang justru perusahaan akan menciptakan "kewirausahaan" di dalam kinerja perusahaannya.