Laman

  • Home

Rabu, 22 Juli 2015

Potensi Rempah Indonesia Di Uni Emirat Arab (UEA), Kekayaan Alam Yang Memikat Negara Kaya

Sebagai negara penghubung perdagangan ke kawasan Timur Tengah, Afrika dan Eropa, Uni Emirat Arab (UEA) merupakan pasar yang menjanjikan bagi Indonesia.

UEA memiliki keterbatasan sumber daya alam sehingga banyak mengimpor produk-produk pertanian dari negara lain, khususnya rempah–rempah.

Kemajuan perekonomian UEA yang pesat menyebabkan populasi penduduk meningkat signifikan. Hal ini berpengaruh terhadap kebutuhan akan rempah-rempah, baik untuk rumah tangga maupun restoran. Sepanjang periode 2009–2013, tren permintaan terhadap produk ini tercatat sekitar 8,3%.

Di sisi lain, Indonesia adalah salah satu negara penghasil rempah-rempah. Indonesia merupakan negara pengekspor produk rempah-rempah ke-4 terbesar di dunia, dengan tren ekspor 12,6% dalam periode 2009–2013. Nilai ekspor produk tersebut ke UEA sepanjang 2013 mencapai US$617.000.

Permintaan UEA akan produk ini dari Indonesia  tumbuh 8,41% selama lima tahun terakhir. Ada lima jenis produk rempah-rempah yang diekspor Indonesia ke UEA, yaitu lada (HS 0904), kayu manis (HS 0906), cengkeh (HS 0907), pala (HS 0908), dan jahe (HS 0910).

Produk yang paling banyak diminati di pasar UEA adalah jahe dan kunyit. Sekitar 28,58% total permintaan rempah-rempah UEA merupakan jenis ini.

Adapun, lima negara utama pemasok rempah-rempah ke pasar UEA yakni India, Singapura, China, Guatemala, dan Tanzania. Indonesia berada diperingkat ke-9.

PELUANG & STRATEGI 

Rempah-rempah UEA tidak hanya digunakan untuk bumbu kari tetapi juga sebagai bahan baku obat. Salah satunyacengkeh, yang digunakan untuk masakan dan median bagi perawatan pascamelahirkan.
Kunyit, jahe, kapulaga, dan lada hitam merupakan produk yang paling banyak diminta di negara itu. Permintaan terhadap komoditas itu terus mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. China dan India menguasai pangsa pasar terbesar untuk produk tersebut.

Menarik disimak untuk komoditas lada hitam. Pemasok lada hitam terbesar di pasar UEA adalah Singapura. Negeri Singa tercatat melakukan re-ekspor lada hitam hingga US$123 juta atau ± 90% dari total yang diimpor UEA.




Dari total nilai impor lada hitam Singapura sepanjang 2013 itu, Indonesia memasok sekitar 32%. Kondisi ini mengindikasikan bahwa peluang ekspor langsung produk rempah-rempah asal Indonesia sebetulnya masih sangat terbuka luas.

Partisipasi baik dalam pameran tahunan seperti Gulf Food serta proaktif menghubungi perwakilan perdagangan Indonesia di UEA untuk meminta informasi terkait komoditas rempah ini, maupun bantuan kerjasama dengan pihak UEA, dapat dijadikan salah satu cara mendorong pembukaan pasar bagi pelaku produk ini.

Untuk rempah-rempah, seperti diketahui, Pemerintah UEA menetapkan bea masuk sebesar 5%.Sebagai bagian dari perlindungan pasar di negaranya, produk rempah-rempah yang masuk ke negara itu diwajibkan mencantumkan nama produk, negara, kuantitas, suhu penyimpanan, tanggal produksi dan tanggal kedaluwarsa dalam dua bahasa yaitu Inggris dan Arab.

Pada 2014,melalui perwakilan perdagangan di UEA, Pemerintah Indonesia juga menerima pesanan dari pasar di negara itu untuk produk ban, sabun, kopi, perhiasan, teh, dan lainnya; selain produk rempah–rempah.

Sumber: Bisnis.Com