Laman

  • Home

Senin, 20 Juli 2015

Mencoba Mengamati Pusat Oleh-Oleh dan Kerajinan di Prambanan & Borobudur

Momentum Lebaran di Prambanan dan Borobudur

Liburan adalah kesempatan kami untuk melihat potensi pasar produk UMKM di obyek wisata unggulan Jawa Tengah, yaitu Candi Prambanan dan Candi Borobudur. Karena kedua obyek wisata ini sudah berskala internasional, dan selalu padat pengunjung saat liburan baik oleh pengunjung domestik maupun pengunjung manca negara.

Sungguh luar biasa, dalam 2 kali lebaran kami mengamati kenyataan ini. Potensi promosi dan pemasaran yang harus kita garap untuk mempromosikan produk-produk asli Jawa Tengah hasil karya UMKM Jawa Tengah.

Suasana pagi di Candi Prambanan, pilih pagi agar tidak panas.

Wisatawan manca negara pun sudah banyak yang berkunjung di waktu pagi.

Wisatawan manca negara banyak yang menginap di Puri Devata, di dalam komplek candi.

Bagaimanapun juga obyek wisata ini masih menyumpan magnet yang kuat.

Ke Borobudur pun sebaiknya pilih di waktu pagi atau sore.

Salah satu keajaiban dunia yang dimiliki Jawa Tengah

Monumen ini selalu abadi, dan menjadi impian orang di seluruh dunia untuk mengunjunginya.
Wisatawan yang berkunjung ke 2 obyek wisata ini sangat beragam, dan yang paling mencolok adalah keluarga dan pasangan muda-mudi. Kami pun mencoba juga mempelajari dan mengamati perilaku belanja mereka di obyek wisata tersebut, kecenderungan apa yang membuat mereka berbelanja dan produk apa yang mereka beli.

Selain kerajinan khas lokasi wisata, mainan anak, produk kerajinan yang menarik perhatian adalah kelengkapan dapur (kitchenware) dan makanan khas. Hanya saja cara mendisplay produk dan kemasannya perlu diperhatikan agar produk semakin menarik lagi.

Usaha teman-teman penggiat wisata yang luar biasa.

Teman-teman dari penggiat pariwisata Jawa Tengah dan Yogyakarta sangat luar biasa usaha untuk membuat obyek wisata ini tetap menarik meskipun bukan musim liburan. Paket-paket wisata mereka ciptakan untuk ditawarkan ke manca negara maupun wisata edukasi untuk sekolah-sekolah.Karena jika hanya liburan, pasti pedagang dan orang-orang yang bergantung hidupnya dari obyek wisata ini pasti akan kesulitan.

Tetapi sebenarnya tugas untuk membuat kedua obyek wisata ini bukan hanya sekedar tanggung jawab para penggiat pariwisata saja, karena justru lebih banyak bergantung kepada para pedagang tersebut berkreasi dan berinovasi bagaimana membuat "magnet baru" untuk obyek wisata tersebut. Misalnya membuat konsep sentra penjualan kerajinan tertentu yang hanya ada di pusat kerajinan dan oleh-oleh di kedua obyek wisata tersebut. Jika produk yang dijual sudah banyak dijual di tempat lain, pasti magnetnya akan banyak berkurang.

Pusat Oleh-Oleh dan Kerajinan

Kunjungan kami ke 2 obyek wisata ini karena ingin lebih dekat mengetahui potensi pasar kerajinan dan makanan khas yang ada. Kami ingin melihat produk-produk apa yang dijajakan di sana, bagaimana menatanya dan bagaimana pula mengemasnya. 

Semua masih terkesan PKL (Pedagang Kaki Lima) dan kurang menggambarkan obyek wisata kelas dunia. Semua ditata seadanya tanpa ada konsep yang rapi, baik pemilihan produk yang akan dijual dan bagaimana mengemasnya. Dan pedagangnya pun sebagai pedagang yang belum mampu memberikan "edukasi" produk kepada calon konsumennya. 

Ya ini memang PR yang harus kami selesaikan di masa mendatang dan butuh keterlibatan semua pihak, karena potensi pasar yang ada di kedua obyek wisata ini bisa mengangkat produk Jawa Tengah di mata dunia.

Kemasan dan penataan produk yang menarik bisa membuat daya tarik tersendiri.

Perlu upaya pembinaan untuk pemilihan produk dan penataannya.

Banyak produk dijual ala kadarnya, tanpa dikemas yang menarik.

Penataan yang tidak menarik membuat pengunjung hanya berlalu saja.

Potensi pasar yang luar biasa.
Kami juga melihat beberapa produk mainan anak yang masih sangat "tradisional", dan tidak mengadopsi sesuatu yang sudah modern padahal pasar sudah berubah. Beberapa produk replika candi pun dibuat dari resin, mengapa bukan dari serbuk batu ? Mengapa lebih suka yang imitasi padahal pemakaian serbuk batu pun bisa mereka lakukan.

Ayolah, kita sudah masuk ke pasar bebas. Jika produk-produknya masih seperti itu apakah kita bisa bersaing ? Belum lagi kualitas T-Shirt dan batik yang dijual di pusat kerajinan itu juga perlu sentuhan yang serius agar tidak hanya mengejar harga murah tetapi kualitas harus tetap jadi acuan dalam perdagangan.

Ini kemasan yang bagus, tapi sayang produksi dari Thailand.
Seandainya ada pembinaan dalam mengemas produk oleh-oleh di pusat oleh-oleh kedua obyek wisata itu, pasti pasar tersebut sudah berubah menjadi pasar seni yang menarik. Ingat, pasar seni ? Jadi yang dijual di sana adalah produk-produk yang benar-benar bernilai seni dan berkualitas.

Dan jika produk makanan khas yang mau dijual, maka kualitas produk dan kemasan pun harus mencitrakan produk berkelas dan butuh sentuhan pembinaan yang lebih lanjut. Apakah produk nasi intip yang digantung-gantung itu tidak bisa dikemas dengan box kertas yang menarik ? Bukankah untuk produk makanan kita juga perlu ketentuan hygienis dan sehat ? Perlu ditinjau ulang.

Tanpa disadari, dengan bercermin kepada produk makanan yang ditata dan dikemas seadanya membuat turis asing berpikir negatif mengenai "kelas" dan "kualitas" produk dari UMKM Jawa Tengah. Mereka sudah terbiasa dengan pola hidup sehat dan hidup bersih, dan jika disodorkan produk makanan yang terkemas apa adanya maka minat mereka untuk membeli pasti sudah tidak ada lagi.