Laman

  • Home

Rabu, 15 Juli 2015

10 Cara Paling Mudah untuk Ekspor Kayu Olahan, Mau Coba?


Container Yard (CY) Pelabuhan Semarang.
Bukan bermaksud ingin menggampangkan ekspor, tetapi adalah untuk memotivasi UMKM untuk ekspor.

Anda ingin mengekspor produk olahan kayu ke luar negeri? Tetapi Anda tidak punya perusahaan apalagi pabrik, ijin ekspor, dan sebagainya ?

Tidak masalah, maju terus ! Selama anda sudah mendapatkan kepercayaan dari pihak pembeli untuk supply produk olahan kayu dari Indonesia. Banyak sekali peluang seperti ini kandas karena permasalahan tidak ada perusahaan (pabrik), ijin ekspor dan sebagainya. Padahal peluang ini yang paling dicari oleh teman-teman UMKM produsen kayu olahan di Semarang, Solo, Jepara, Kudus dan sebagainya.

Produk unggulan Jawa Tengah adalah furniture dan handicraft, sehingga tidak sulit mendapatkan supplier yang memiliki workshop atau pabrik di Semarang, Jepara, Kudus dan Solo. Anda cukup berkomunikasi dengan kami atau ASMINDO untuk suppliernya.

Ingat, dengan ekspor berarti Anda sudah menambah devisa negara terlepas nanti anda akan disebut sebagai pahlwan devisa atau apalah. Negara ini butuh devisa, dan salah satunya dengan menggalakkan ekspor.

Lantas, bagaimana cara dan tahapannya ?

Berikut adalah cara dan best practice yang bisa dicoba untuk diikuti:
  1. Apa produk kayu olahan yang ingin Anda ekspor atau yang dibutuhkan oleh pembelinya ? Temukan HS Code nya, lihat or download di http://peraturan.beacukai.go.id/index.html?page=detail/jenis/12/231/peraturan-menteri-keuangan/per-213-pmk-011-2011/penetapan-sistem-klasifikasi-barang-dan-pembebanan-tarif-bea-masuk-atas-barang-impor.html
  2. Cari informasi supplier (pabrik) melalui rekomendasi KADIN atau ASMINDO untuk mendapatkan supplier yang kredibel dan aman. Jika masih kurang yakin, carilah referensi dari pihak lain yang mengetahui calon supplier anda ini. Pastikan bahwa supplier anda benar-benar mampu memproduksi produk yang diminta oleh pembeli anda.
  3. Check kredibilitas pembeli/importir Anda melalui jaringan perbankan atau melalui ASEI yang memiliki fasiltas tersebut. Bagaimana track record buyer harus anda ketahui untuk menjamin keamanan transaksi dan pembayarannya.
  4. Pastikan term of paymentnya, apakah menggunakan LC atau Telegraphic Transfer. Untuk LC, pastikan anda check keabsahan LC di negotiating bank yang ditunjuk sebelum mengeksekusi ordernya. Jika kurang pengalaman membaca LC, mintalah bantuan dari petugas bank untuk membantu anda memahami poin-poin penting yang ada di LC. Jika ada poin yang sulit dipenuhi, segeralah minta amandemen untuk perubahan kepada pihak pembeli. Untuk lebih aman lagi, gunakan jasa pihak ketiga yang bisa memberikan jaminan terhadap gagal bayar, yaitu ASEI (Asuransi Ekspor Indonesia).
  5. Pastikan kualitas dan spesifikasi produk sesuai dengan permintaan buyer untuk menghindari klaim yang merugikan. Ingat, anda membawa nama besar Indonesia, jangan bertindak nakal. Ulah nakal beberapa eksportir akan mengakibatkan sanksi black list untuk esportir tersebut, atau bahkan black list untuk seluruh eksportir dari Indonesia. Jika pembeli menunjuk pihak ketiga untuk melakukan QC, pastikan bahwa kriteria kualitas dan spesifikasi anda dengan QC harus sama.
  6. Sebelum melakukan kegiatan produksi, pastikan anda sudah punya mitra yang bisa membantu anda untuk pengurusan dokumen, ijin ekspor dan proses ekspornya. Jangan kuatir, forwarder dan EMKL akan membantu anda, bahkan mampu menyewakan ijin ekspor melalui perusahaan lain. Layanan forwarder dan EMKL bisa ALL IN, bahkan sewa SPLK pun mereka bisa layani. Jika sudah berkoordinasi sebelumnya dengan mitra forwarding anda, mulai dari perhitungan biaya ekspor sampai dengan ijin, dokumen dan proses ekspor maka proses anda akan semakin mudah dan aman.
  7. Pada saat akan loading container, QC yang ditunjuk oleh buyer akan melakukan pemeriksaan barang apakah sesuai dengan spesikasi yang diminta buyer atau tidak. QC seperti SUCOFINDO juga akan memeriksa apakah barang yang akan diekspor kena pajak ekspor atau tidak (diketahui pada tahap no. 1), jika kena pajak maka pajak harus dibayar terlebih dahulu. EMKL atau forwarding bisa membantu mengurus ini.
  8. Semua proses ekspor akan dibantu dan dipandu oleh forwarder, sampai dengan munculnya dokumen ekspor yang dibutuhkan. Pastikan semua dokumen ekspor lengkap sebagaimana yang diminta oleh buyer untuk penagihan, terutaman jika pembayaran dengan LC.
  9. Jika pembayaran non LC, maka ketika terbit Bill of Lading. Scan BL (hitam putih saja) dan emailkan copy nya ke buyer untuk bukti bahwa container sudah diberangkatkan.Untuk penagihan BL dilampiri dengan packing list dan invoice atau dokumen lain yang diminta. Jika pembayaran menggunakan LC, maka semua dokumen yang dipersyaratkan oleh LC akan diunjuk ke negotiating bank yang ditunjuk oleh penerbit LC. Jika semua dokumen sudah conform maka pembayaran bisa segera diproses sebagaimana jenis LC yang diterbitkan. Karena ada at sight LC (pembayaran diproses setelah unjuk dokumen) dan ada pula yang usance LC (pembayaran dilakukan sesuai tempo waktu yang disebutkan di LC).
  10. Untuk membantu cash flow keuangan anda, sebaiknya mintalah DP sebagai jaminan produksi kepada pembeli anda. 
Demikian urutan tahapan yang mungkin bisa bervariasi untuk masing-masing kasusnya, tetapi pada prinsipnya ada tidak jauh berbeda. 

Hal yang perlu dicermati adalah bahwa kita tidak sendiri, ada mitra yang akan membantu kita secara profesional. 

Jika masih ragu lagi, silahkan kontak GetAsean.Com yang sudah menyediakan layanan ekspor terpadu.