Laman

  • Home

Sabtu, 20 Juni 2015

UMKM pun Harus Berpikir Digital dan Berwawasan Global

Dunia Dalam Genggaman Kita
Dunia Seluas Layar Gadget Anda

Kemajuan teknologi akhir-akhir ini memungkinkan transfer informasi dengan cepat dan mudah melalui internet ke peralatan komunikasi kita yang berada di tangan kita setiap hari. Kecepatan informasi ini sudah sangat luar biasa, dan bisa dikatakan tanpa batas. Applikasi komunikasi, sosial media, toko online, dan berbagai hal sudah tersedia dan tinggal klik semua hadir di hadapan anda.

Melakukan penjualan yang jaman dahulu harus keluar rumah dan door to door, sekarang sudah sangat ketinggalan. Berbagai applikasi pemasaran juga sangat memudahkan penjual dan pembeli bertemu dengan konteks digital dan bisa melakukan transaksi dengan aman dan cepat.

Semua peralatan dan applikasi ini adalah didesain dan dibuat untuk memberikan kemudahan dan kecepatan proses yang tinggi, inilah dunia digital yang saat ini kita hadapi. Hampir tiada batas ! 

Apakah Mental dan Pola Pikir Kita Sudah Digital ?

Peralatan dan applikasi software hanya sebuah alat, ibarat petani dan cangkulnya. Meskipun cangkul sudah diganti dengan traktor modern, tetapi jika petaninya masih bersikap dan berpola pikir lambat maka hasil yang didapatkannya pun tidak akan memuaskan meskipun bisa dikatakan pasti meningkat.

Dengan peralatan yang lebih canggih si pengguna juga dituntut berpikiran canggih dan cepat agar peralatan tersebut menjadi optimal. Misalnya: sudah pegang android terbaru atau smart phone terbaru tapi penggunaannya hanya untuk telpon dan sms. Apa artinya peralatan tersebut ?

Pola pikir digital adalah pola berpikir cepat, praktis dan sistematis. Untuk ke arah tersebut, UMKM dituntut untuk memiliki standard prosedur yang sistematik yang bisa diupgrade secara bertahap. Cara kerja yang serabutan bukanlah sebuah cara kerja digital, semua harus rapi semua harus bersistem sebagaimana peralatan canggih dibuat.

Tercatat, urut dan dilakukan peningkatan secara terus menerus merupakan dasar membangun sebuah sistem kerja. Jika terbiasa dengan sistem kerja yang rapi, maka pengambilan keputusan akan menjadi lebih cepat karena kita sudah terpola dan apa yang pernah kita lakukan sudah terdata.

Inilah yang menjadi kelemahan UMKM saat ini, karena semuanya masih berjalan tanpa konsep, tanpa rencana, proses dan kegiatan tidak tercatat dan sebagainya. Memang membangun ini bukanlah hal yang mudah, tetapi setidaknya kita harus tahu kapan kita akan memulainya.

Berpikir digital lebih utama pada pelaku atau SDM-nya. UMKM yang sudah berpikir digital pasti lebih cepat merespon pasar dan lebih cepat melakukan perbaikan sehingga mampu bertahan dan beradaptasi terhadap perubahan ekonomi yang selalu terjadi.

Berwawasan Global, Karena Sudah Digital.

Sekarang batas wilayah sudah semakin pudar garisnya, di perdagangan fisik kita sudah mengenal free trade dan di perdagangan online pun lebih-lebih lagi. Sehingga UMKM pun harus memiliki wawasan yang global sebelum memproduksi sesuatu produk.

Dalam memproduksi barang dan jasa, UMKM harus sudah meletakkan standar kualitas global sehingga tidak ada perbedaan pasar dalam negeri dan pasar luar negeri. Kapasitas dan kontinuitas produk pun harus memikirkan produksi masal.
 
Pemerintah sebagai regulator juga harus tanggap dengan perijinan dan sertifikasi global untuk suatu produk. Pelayanan konvensional sudah tidak jamannya lagi, semua perijinan dan pelayanan sertifikasi produk harus bisa dilakukan secara online agar prosesnya cepat dan mudah.

Jika UMKM sudah bisa berpikir digital dan berwawasan global, lantas apa yang mesti ditakuti dengan adanya MEA ? Jangan-jangan justru regulatornya yang belum siap bersaing memberikan layanan digital kepada UMKM di Indonesia ?