Laman

  • Home

Selasa, 30 Juni 2015

Saya Memanggilnya "Pak Tepung".

Perang Tepung, Sudah Saatnya
"Pak Tepung yang dimaksud bukanlah mengenai orangnya, melainkan mengenai ide bisnisnya."


Bagaimana membuat bahan itu awet dan praktis ?

2 tahun yang lalu kami bertemu dengan salah satu UMKM yang "bermain" dengan tepung dan saya sangat tertarik untuk bertanya-tanya lebih jauh mengenai bisnis tepung dengannya. Saat itu kami tahu bahwa masalah UMKM tersebut tidak bermasalah dengan pemasaran karena sudah memasuk ke beberapa pasar modern, yang jadi masalah adalah sistem pembayaran yang diterapkan pasar modern kepadanya. Dengan pembayaran sistem tempo, maka cash flow UMKM pemasok akan terkendala sehingga bisa dikatakan justru UMKM-UMKMlah yang memodali pasar modern tersebut.


Melihat produkya yang unik-unik dan serba tepung membuat saya mengusulkan kepadanya untuk mengemasinya dalam takaran 1/2 atau 1 kg-an. Dan ketika dia menanyakan untuk apa kemasan harus seperti itu, maka saya jawab karena saya mau coba dipasarkan secara online. Dan saya mulai dari produk yang paling unik dan masih langksa di pasaran.

Ternyata dalam waktu singkat permintaan atas produk tersebut luar biasa, karena biasanya produk yang sebut saja bernama tepung kentang masih jarang di pasaran. Pesaingnya adalah produk impor, yang rasanya kurang pas dengan lidah Indonesia. Dalam waktu kurang dari 2 bulan lebih dari 1 ton produk bisa diserap oleh pasar online.

Sekarang kami berhasil membina beberapa Pak Tepung - Pak Tepung yang lain, yang memproduksi berbagai produk dalam wujud tepung, misalnya tepung gaplek, tepung ganyong, tepung krispy, tepung mendoan, tepung kremes, tepung martabak dan lain sebagainya.

Semua dalam wujud adonan (premix) instan yang memudahkan seseorang yang tidak ahli masak pun bisa berubah menjadi ahli masak yang mampu menghasilkan masakan yang enak. Inilah yang kami bidik, pasar Ibu muda yang sedang ingin dipuji suaminya bahwa dia bisa memasak.

Ide membuat produk dalam bentuk tepung bahan maupun tepung mix adalah ide yang sederhana untuk mengakali bagaimana menyimpan bahan makanan agar lebih awet dan praktis. Dalam bentuk tepung pun kita mudah untuk meracik sebuah resep tepung tertentu, seperti saat ini ada tepung leker dari UMKM Jawa Tengah yang bisa supply sebuah franchise leker di Jakarta.

Saatnya perang bahan, bukan perang makanan jadi.

Dari sudut pandang kami, produksi makanan jadi ibarat membatasi penikmat hanya bisa merasakan tanpa pernah memberikan kesempatan untuk mencobanya. Aspek edukasi telah ditinggalkan, dan kami melihat aspek edukasi ini justru aspek yang sangat penting dalam membangun loyalitas pelanggan.

Meskipun tidak mahir masak 100%, tetapi dengan adonan kering yang praktis apalah bedanya ? Yang penting masakan itu lahir dari olah tangannya sendiri. Bagaimana kami mampu membuat seorang ibu muda yang tidak bisa memasak namun dengan adanya adonan instan ini mampu membuat ayam krispy yang lebih gurih dan renyah dari brand terkenal, bagaimana kami juga mampu mengajarkan seorang ibu muda untuk membuat pempek yang melebihi outlet pempek yang terkenal.

Tanpa disadari, sebenarnya inilah gejala trend yang sedang terjadi. Orang tidak hanya puas "makan" tapi lebih puas dengan mampu membuat makanan tersebut hadir di meja makannya sendiri.

Dengan hadirnya Pak Tepung - Pak Tepung yang makin kreatif di Jawa Tengah, membuat kami semakin tertantang untuk mempromosikan produk mereka dan tentunya memasarkannya melalui dunia yang kami akrabi, yaitu dunia online !