Laman

  • Home

Jumat, 12 Juni 2015

Bertahan Dalam Krisis : CV Kalingga Jati Jepara

Sharing CV Kalingga Jati kepada Entrepreneur Muda UNDIP

Mewakili undangan HIPMI Jawa Tengah untuk kunjungan ke Jepara pada hari Kamis 11 Juni 2015 kemarin bareng dengan UMKM UNDIP yang semuanya adalah mahasiswa, kami akan mendengar bagaimana kiat-kiat pemilik CV Kalingga Jati bertahan dalam krisis.

Sebagaimana kita tahu bahwa usaha mebel di Jepara sejak krisis global yang dimulai tahun 2008 lalu dan belum pulih sampai sekarang. Banyak perusahaan mebel di Jepara bangkrut dan hanya beberapa saja yang masih bertahan, dan masih tetap ekspor. Adalah CV Kalingga Jati yang sekarang dipimpin oleh putra dari pendiri CV Kalingga Jati, yaitu Mas Rensy, masih mampu bertahan dari order yang dulunya 800 kontainer per tahun sekarang tinggal 35 kontrainer per tahun karena dihantam krisis global.

Pada awalnya CV Kalingga Jati dimanjakan oleh buyer terbesarnya dari Belanda yang memberikan "jatah" order 800 kontainer per tahun, hal ini menyebabkan perusahaan ini tergantung kepada 1 buyer tersebut sampai akhirnya saat krisis buyer tersebut tidak bisa memberikannya order kepada Kalingga lagi. Dengan kondisi tersebut, perusahaan sempat goyah, tetapi dengan semangat untuk bertahan maka perusahaan terus bertahan dengan melakukan pemasaran kepada buyer lainnya dan sekarang mampu kembali bertahan dengan order 35 kontainer.


Acara Business Sharing di Showroom Kalingga Jati.


"Kuliah SIngkat" Bapak Reza Tarmizi, Ketua Umum HIPMI Jateng



Kunjungan Ke Area Produksi Kalingga Jati


Sharing dari Pemilik Kalingga Jati di Worshop.
Beberapa hal yang bisa kita pelajari dari CV Kalingga Jati:
  1. Transfer kepemimpinan dari Ayah kepada Anak untuk menjawab tantangan bisnis saat ini. Dimaksudkan untuk mengubah kebijakan yang lebih dinamis dari tradisi lama kepada tradisi yang lebih "muda". 
  2. Tetap bertahan dengan sistem produksi konvensional, yang masih didominasi oleh tenaga manusia meskipun sudah dikombinasi dengan mesin-mesin produksi. Dengan sistem ini, biaya produksi masih lebih fleksibel disesuaikan sehingga harga jual masih bisa mengikuti permintaan pasar.  
  3. Berani mengambil sertifikasi FSC untuk pasar yang lebih luas di Eropa, mengingat tuntutan GREEN dari pihak pasar di Eropa sangat kuat dan harus diikuti oleh produsen mebel karena produsen mebel dituding sebagai "perusak" hutan di Indonesia.
  4. Pemasaran dilakukan sendiri oleh pemilik, sehinggga hubungan baik dengan buyer terjaga lebih baik.
Peluang Pemasaran Dalam Negeri

Dalam kesempatan ini Ketua HIPMI Jawa Tengah juga sempat menyinggung untuk pemasaran dalam negeri, yang mungkin bisa membuka kesempatan kepada entrepreneur muda dari UNDIP untuk bisa ikut memasarkannya. Sampai saat ini pasar CV Kalingga adalah 100% eskpor. Untuk pasar dalam negeri memang masih terkendala dengan harga jual, karena harga dibebani pajak 10% untuk PPN-nya.

Sebenarnya beberapa peluang pasar negeri masih bisa dirambah, yaitu proyek-proyek hotel dan resort yang ada di kota-kota besar di Indonesia. Bahkan resort di Bali dan Lombok pun merupakan pasar yang potensial.

Semoga entrepreneur muda dari UNDIP bisa melihat peluang ini dan bisa menyakinkan CV Kalingga Jati bahwa proyek dalam negeri masih merupakan pasar yang menjanjikan bagi industri mebel di tanah air.