Laman

  • Home

Jumat, 26 Juni 2015

Bagaimana Usaha Kami Menyakinkan Buyer GetAsean.Com ?


Presentasi Produk UMKM Secara Langsung Ke Buyer
Memperkenalkan produk UMKM kepada Buyer secara offline.

Menjawab beberapa pertanyaan dari member GetAsean.Com tentang bagaimana effort kami mempromosikan produk UMKM di GetAsen.Com selain digital marketing adalah dengan cara marketing konvensional dengan mempresentasikan produk UMKM kepada buyer-buyer yang sengaja kami undang datang ke Kadin Jateng. Beberapa buyer dari Korea, Jepang dan Singapore pernah kami undang sebagai upaya kami memberikan layanan kami kepada member GetAsean.Com. 

Kami tidak tinggal diam dan duduk di belakang layar monitor saja, melainkan juga melakukan pemasaran juga secara konvensional (offline). Hal ini kami maksudkan agar akselerasi transaksi di GetAsean.Com bisa kami capai dan mejadikan eCommerce ini sebagai layanan jual-beli yang terpercaya.

Di sisi lain kami juga berupaya keras untuk terus menambah "lapak" dagangan produk UMKM dengan cari terus mengundang member baru baik di sisi penjual maupun juga dari sisi pembeli. Upaya kami memperkenalkan GetAsean.Com kepada buyer asing juga terus kami lakukan secara online.

Butuh upaya lebih dalam mengubah mindset offline ke mindset online.

Harus kami akui bahwa untuk mengubah mindset pemasaran offline menjadi mindset online di kalangan UMKM Jawa Tengah membutuhkan upaya keras dan butuh waktu. Kebanyakan dari teman-teman UMKM masih berorientasi pemasaran offline yang berdampak biaya tinggi dan respon pasar yang lambat.

Kami harus menyakinkan UMKM bahwa pemasaran online jauh lebih effisien, berdampak luas dan respon pasar yang cepat. Konsekwensinya adalah bagaimana kami harus memberikan edukasi penyajian produk yang menarik dan "berdaya jual" tinggi. Penyajian foto dan informasi merupakan modal utama dalam menarik perhatian buyer.

Menyakinkan bahwa eCommerce membutuhkan "waktu awalan" untuk berakselerasi juga merupakan kendala bagi kami, karena beberapa UMKM yang belum terbiasa bermain online menanyakan mengapa belum ada respon dari pasar. Bagaimana kami menyakinkan kepada member kami bahwa butuh minimal waktu 1 tahun untuk "persiapan" membangun sebuah "pasar" atau "market place" memang menjadi menu sehari-hari kami. Semakin cepat UMKM bergabung dan membuka "lapak" akan banyak membantu kami mempercepat proses ini, sementara UMKM sepertinya masih senang dengan budaya "wait and see and lost the opportunity". atau budaya menunggu dan kehilangan peluang.

Sebagaimana pasar konvesional, ketika pedagang masih sedikit maka pasar belum ramai tetapi ketika sudah banyak yang membuka lapak maka pengunjung pun semakin banyak karena banyak pilihan produk yang disediakan di pasar. Hal inilah yang selalu ingin kami yakinkan kepada UMKM-UMKM binaan kami di Jawa Tengah.

Tidak usah menunggu waktu untuk melihat, segerakanlah menjadi pemain bukan penonton.