Laman

  • Home

Selasa, 19 Mei 2015

Customer Bingung Memilih dan Mengingat Produk UMKM


Banyak merk, meskipun sejenis, membuat branding semakin sulit.


Sebuah tantangan besar ketika memasarkan produk UMKM yang masuk kategori produk unggulan, karena pemasar dihadapkan pada permasalahan banyaknya produk sejenis dengan berbagai merk. Di satu sisi memang produk unggulan itu harus dibuktikan dengan banyaknya produk tersebut di suatu daerah, tetapi sisi lain produk sejenis dengan banyak akan menyulitkan pemasar dan konsumen untuk mengingat produk dan merk dari produsen tertentu.

Dengan banyaknya produsen, brand yang berarti differensiasi menjadi semakin sulit dan tipis perbedaannya. Produsen yang mampu memperkenalkan produksnya (promosi) secara gencar ke pasar yang lebih luas lah yang akan mampu merebut hari konsumen, tetapi ketika pesaing masuk dengan produk yang tidak "jauh beda" dengan harga yang lebih "miring", maka loyalitas dari konsumen sulit dipertahankan.

Beda merk, harus benar-benar beda kreativitas desain dan produknya.

Kebiasaan ATM (= Amati, Tiru dan Modifikasi) memang cara termudah untuk "menyulut" keberadaan sebuah produk baru. Tetapi ketika produsen hanya bisa copy paste, maka yang terjadi adalah banyak produk sejenis dengan banyak merk. Penggiat UMKM dan instansi terkait harus jeli melihat hal ini, karena pada akhirnya produk tersebut "lamban" diserap oleh pasar. Hal yang paling mencolok adalah terjadi pada produk batik yang setiap kota/kabupaten di Jawa Tengah pasti ada batiknya, dan hebatnya selalu menjadi unggulan. Apakah harus batik ? Apakah ini potensi, bukan instruksi ?

Dari pengalaman kami, ide yang genuine (asli) dari UMKM yang diluar program produk unggulan justru sangat menarik bagi pasar dan unik. Kreativitas seperti inilah yang seharusnya digenjot, karena jika mau jujur, teman-teman UMKM yang kreatif ini bisa bertahan dan bisa berkembang karena kemandirian ide dan kemandirian usaha.

Single brand, dan sentra produksi.

Jika memang mau menggelorakan produk unggulan, produk UMKM harus diarahkan ke arah STANDARD tertentu (standarisasi), SINGLE BRAND dan SENTRA PRODUKSI. Tujuannya adalah mempermudah pemasaran produk unggulan tersebut, dan menjawab permasalahan dalam hal kualitas, kapasitas dan kontinuitas produk.

Lebih mudah menjual produk CARICA dengan Merk Wonosobo yang diproduksi oleh banyak produsen carica, daripada menjual carica dengan berbagai merk yang tentunya membingungkan konsumen karena semua merk tersebut belum dikenal semua. Lebih mudah bekerjasama dengan distributor nasional dengan sentra produksi carica, karena tercukupi kapasitas dan kontinuitas produknya.

Menggunakan brand sendiri silahkan asal mampu membuat kreativitas dan inovasi yang berbeda dan unik. Tidak semua produsen memiliki kemampuan seperti ini, dan tidak semua produsen sanggup berkomitmen dengan brandnya dan mampu menanggung konsekwensi biaya dalam promosi dan membangun brand tersebut.

Kesulitan-kesulitan kami dalam memasarkan produk kami adalah seperti tersebut di atas, karena tidak mudah mengkomunikasikan produk-produk UMKM tersebut kepada relasi buyer kami karena banyak ragam dan banyak merk tersebut.

Marilah kita semau sadar dan mulai mencermati hal ini, persatuan UMKM akan membawa ketangguhan dan meningkatkan daya saing produk yang tinggi. Keseragaman harga juga akan terkendali karena standard produk sudah ditentukan sebagaimana yang diharapkan oleh pasar.