Laman

  • Home

Sabtu, 02 Mei 2015

Berburu Loen Pia di Semarang

Loen Pia Semarang ?

Bicara mengenai makanan khas Semarang, pasti tidak akan meninggalkan nama Loen Pia Gang Lombok yang merupakan keturunan asli dari pembuat loen pia pertama di Semarang. Loen pia dikenal sejak abad 19 dan merupakan perpaduan antara resep dari Cina dan Semarang. Perpaduan ini unik karena pembuatnya adalah 2 orang berbeda bangsa Kong Tjoa dan Mbok Wasi menyatu dalam satu perkawinan dan menurunkan pewaris-pewaris produk loen pia sampai sekarang, yaitu Loen Pia Gang Lombok yang merupakan loen pia tertua di Semarang, Loen Pia Mbak Lin dan Loen Pia Mataram.

Tidak salah ketika ada kesempatan waktu karena liburan saya dan keluarga berburu loen pia di Gang Lombok yang berada di samping Klenteng Tay Kak Sie, daerah Pekojan Semarang. Selalu ramai dan antri di warung kecil ini, makanya kami harus pilih waktu yang tepat dan jangan terlalu kesiangan jika tidak mau kehabisan.

Setelah 1/2 jam sekitar jam 12.30, kami baru dapatkan pesanan kami, antrian sudah mulai surut.

Tamu bule sering kita temui di sini, mereka sedang bernostalgia di Semarang.
Bertemu orang asing atau wisatawan luar kota pasti akan menjadi rutinitas di sini. Loen pia Gang Lombok memang masih mempertahankan resep tradisi keluarga, rasanya sangat soft dan luar biasa khasnya. Belum ada yang mampu menyamai sensasi loen pia asli Semarang ini.

Hai luar biasanya, ketika kami menikmati loen pia ini di tempat, ada tukan jualan wedang tahu dengan pikulan dan mangkal di belakang kami. Kontan saya langsung pesan 3 pori, 2 untuk saya dan 1 untuk istri. Ini wedang tahu paling ciamik yang pernah saya coba di Semarang, langsung masuk top of mind saya untuk cita rasa wedang tahu terenak di Semarang.



Selesai dari Loen Pia Gang Lombok kami harus lanjut ke Loen Pia Mbak Lien yang juga merupakan keturunan dari Kong Tjoa dan Mbok Wasi. Tempatnya juga unik, di Jl Grajen, sebuah gang di Jl Pemuda Semarang sederet dengan Toko Oen yang jadul dan depan Hotel Blambangan yang jadul juga.

Bagi yang sekedar beli dan dibawa pulang cukup antri di mulut gang, tetapi bagi yang ingin makan di tempat dan beli oleh-oleh khas Semarang silahkan masuk gang menuju restorannya. Banyak juga yang makan di sana atau sekedar beli oleh-oleh. Beda ? Pasti beda dengan Loen Pia Gang Lombok, meskipun resepnya dari satu keturunan. Enak ? Ya pasti lah. Loen Pia Mbak Lien sudah berani berimprovisasi dengan berbagai rasa sehingga pembeli ada beberapa pilihan.

Makan Loen Pia di Loen Pia Mbak Lien, nyaman buat ngobrol.
Bagi yang ingin melihat bagaimana membuat loen pia, Mbak Lien menggelar proses produksi di sepanjang gang masuk ke restorannya. Sekaligus wisata edukasi produksi loen pia.

Unik memang, gangnya bersih dan ada edukasi produksi loen piannya juga. Konsep yang diusung Mbak Lien ini sungguh merupakan kepeduliannya terhadap pengembangan wisata Semarang Tempo Doeloe.

Kebetulan parkir kemarin penuh banget dan kebagian parkir di depan Roti Wijaya Jl Pemuda 38 Semarang. Ini dia yang saya selalu cari, letaknya juga masih di depan Hotel Blambangan, persis malah. Toko roti yang sudah ada sejak jaman Belanda ini masih juga dengan kesederhanaannya menyediakan roti-roti asli jaman dulu, seperti roti pisang coklat, roti pisang keju, roti kelapa, donat dan lain-lain. Sensasi roti jama dulu masih sangat kental di lidah, pulen dan halus ... mantap. Harganya pun masih sanat murat, lumayan buat bekal perjalanan bagi wisatawan luar kota. 

Jangan terlalu sore jika mau beli roti wijaya, soalnya tengah hari pun sudah habis karena sejak selesai oven sudah dipesan oleh orang-orang China ABG (Angkatan Babe Gue) dan tinggal sedikit. Banyak orang kaya China yang merupakan secret admiror (penggemar rahasia) roti wijaya ini. Coba dech, pasti beda dengan roti-roti yang beredar jaman sekarang.

Salam kuliner dari Semarang !