Sharing dari saya dari hasil Business Sharing bersama Bapak Dr James Riady

Ketua Umum Kadin Jateng, Kukrit Suryo Wicaksono membuka business sharing di depan pelaku usaha.

Beberapa tokoh Kadin dan asosiasi berfoto bersama Dr James Riady

Selalu siang dengan apapun kondisi Indonesia saat ini, ini adalah ciri khas entrepreneur.

Kukrit Suryo Wicaksono & Dr James Tjahaja Riady

Peluang Kewirausahaan dalam Dunia yang Bergolak

Beberapa sharing berikut saya ambil dari sharing yang diberikan oleh Pak James Riady dan juga pendapat pribadi saya sendiri.

Dunia masih dalam kondisi krisis ekonomi yang berkepanjangan.

Luar biasa, sebenarnya kita sedang dilanda krisis ekonomi dunia yang berkepanjangan dan justru kita tidak menyadarinya. Krisis ini dimulai sejak beberapa tahun yang lalu, sejak kita tahu bahwa USA pun merasakannya di tahun-tahun 2005-2006 yang lalu yang kemudian disusul oleh Eropa, dan selanjutnya negara-negara lain di luarnya.

Dari semua negara di dunia yang terlanda krisis, mungkin baru USA yang sudah pelan-pelan mampu mencoba bangkit meskipun hasilnya juga belum menggembirakan. Di luar USA sesungguhnya ASEAN termasuk dalam kategori "bagus" dan mampu bertahan. 
Jika berbicara mengenai ASEAN, kita pasti akan melihat Indonesia, karena separuh ASEAN adalah Indonesia. Hanya saja kondisi Indonesia saat ini semakin parah karena kebijakan-kebijakan pemerintah yang diambil tidak tepat sasaran, sehingga krisis yang terjadi serasa semakin kuat dampaknya saat ini. Mulai dari nilai tukar rupiah yang melemah, harga BBM naik yang diikuti kenaikan tarif listrik dan harga kebutuhan pokok.

Mengapa Indonesia semakin konsumtif ?

Kondisi ini semakin parah ketika daya saing produk nasional melemah sebagai akibat ekonomi biaya tinggi dan impor produk asing semakin membanjir.
Lantas bagaimanakan kita membangkitkan Indonesia seperti dulu ? Indonesia yang berswasembada pangan, Indonesia yang lebih besar dari Singapore dan Indonesia yang pernah ditakuti sebagai negara besar di Asia.

Kewirausahaan adalah jawabannya.

Kewirausahaan di Indonesia baru sekitar 1.2 % dari jumlah penduduk, sementara negara-negara maju sudah di atas 10%. Tahun-tahun terakhir sudah cukup membaik dari yang sebelumnya hanya 0.8%.
Gerakan kewirausahaan harus terus digelorakan untuk memberikan imunisasi ekonomi terhadap serangan krisis yang berkepanjangan.

Inovasi, kreativitas dan kemandirian harus semakin berkembang di Indonesia dalam situasi yang sulit ini, dan kewirausaanlah yang bisa menjawab semua tantangan ini. Dan pemerintah harus mampu menyikapi hal ini dengan kebijakan-kebijakan yang tepat sasaran dan memihak kepada ekonomi rakyat (maaf, bukan ekonomi kerakyatan yang belum jelas realisasinya).

Bagaimana bersaing dalam kondisi ekonomi dunia yang krisis ini ?

Dengan kreativitas dan inovasi, kita akan mampu mengubah asset diam menjadi asset yang produktif. Asset yang diam bukanlah modal, dan asset diam tidak menghasilkan nilai tambah. Asset ini bisa berupa asset yang tangible maupun yang intangible. 
Bagaimana memberikan "nilai" terhadap uang yang setinggi-tingginya merupakan konsep dasar dalam membangkitkan kewirausahaan. Misalnya: Uang Rp 5 juta akan lebih berproduktif jika bisa "diputar" untuk mempekerjakan 2-3 orang daripada hanya untuk konsumsi 1 orang. Inilah prinsip bagaimana membuat asset kita lebih produktif untuk menciptakan asset yang lain.

Bagaimana peluang kewirausahaan dalam kondisi ekonomi yang seperti ini ?

Selalu ada ruang dan kesempatan bagi UMKM dalam menghadapi situasi yang tersulit, apalagi jika pemerintah membantu dengan kebijakan-kebijakan yang pro-rakyat. Pada kondisi seperti ini perusahaan berskala besar akan mengalami dampak yang signifikan karena kondisi pembengkakan biaya produksi yang luar biasa.

Tinggal bagaimana UMKM Indonesia mampu bersaing dalam kualitas dan harga produk, sehingga daya saing produk di dunia globalisasi bisa masuk dalam "pertimbangan" pasar.
Pelaku UMKM yang akan survive adalah pelaku yang mau mendengarkan kemauan pasar, mampu melihat kenyataan dari bisnisnya dan mampu menumbuhkan kemandirian.









Komentar