Laman

  • Home

Senin, 23 April 2018

Retail Modern, Tantangan Yang Harus Dijawab Oleh UMKM.

Retail modern, tantangan yang harus dijawab oleh UMKM.
Belanja modern menjadi sebuah trend yang akan terus berlanjut, baik belanja offline modern maupun belanja online. Jika dahulu orang berbelanja di pasar tradisional, maka dalam sepuluh tahun terakhir orang cenderung memilih berbelanja di outlet retail modern yang dekat dengan rumahnya. Apakah kita akan mampu membendung kecenderungan ini?

Di sisi lain, ketika memberikan pembekalan pemasaran produk UMKM beberapa UMKM "yang kurang sukses" pemasarannya di retail modern memiliki alasan yang kuat untuk memberikan sharing kepada UMKM lain yang belum pernah memiliki pengalaman supply ke retail modern bahwa banyak sekali kerugian yang mereka dapatkan ketika supply ke pasar modern.

Tetapi kami pun banyak ketemu dengan beberapa UMKM yang telah lama menjadi vendor dan supplier retail modern dan mereka pun bisa berkembang dan bertumbuh. Nah, mana yang benar dan mana yang salah ini?

Retail Modern Adalah Sarana Branding Produk UMKM.

Akan sulit bagi kami untuk mengatakan mana yang benar dan mana yang salah, semua memiliki alasan yang kuat. Oleh sebab itu lebih baik kita melihat kembali tujuan UMKM menjadi supplier atau vendor retail modern.

Jika tujuan utamanya adalah sales, mungkin untuk brand yang belum dikenal masyarakat maka penjualan yang mereka harapkan tidak akan sesuai dengan harapan mereka terlebih ketika mereka pun pasif dalam melakukan promosi bahwa produk mereka sudah bisa didapatkan di retail modern tersebut. Tetapi jika tujuan mereka adalah promosi dan branding di retail modern, maka mereka telah mengambil langkah yang benar.

Informasi pasar adalah hal yang sangat penting dan mahal bagi produsen. Terutama informasi mengenai segmen pasar yang tepat untuk produk mereka, bahkan banyak perusahaan besar rela mengeluarkan anggaran survey yang besar untuk memahami segmen dan target pasar mereka.

Bahkan untuk jenis produk yang fast moving sekalipun, jika brand mereka belum dikenal luas oleh masyarakat maka produk mereka yang telah terdisplay di retail modern pun tidak mampu mendapatkan penjualan yang sesuai harapan.

UMKM benar-benar dituntut untuk memahami retail modern yang cocok untuk produk mereka, karena setiap retail modern memiliki segmen pasar yang berbeda-beda. Bahkan untuk retail modern yang sama, tetapi lain lokasi, segmen yang dilayani berbeda.

Oleh sebab itu jika mau menjawab tantangan, maka UMKM harus melihat retail modern sebagai sarana branding produk mereka. Jika produk mereka telah cukup dikenal luas oleh masyarakat melalui upaya promosi yang terus mereka lakukan, maka produk mereka selanjutnya akan mendapatkan banyak keuntungan jika dijual di pasar modern. 

Kebanyakan UMKM Salah Dalam Melakukan Perhitungan Harga Jual Di Retail Modern.

Sebenarnya risih juga jika setiap kali mendengar keluhan UMKM yang mengatakan mereka rugi ketika melakukan supply ke retail modern. Bukankah harga supply mereka yang tentukan? Bukankah informasi biaya tambahan, listing fee dan pembayaran tempo telah diinformasikan sebelumnya?

Jika informasi tersebut telah mereka miliki seharusnya, mereka bisa berhitung dengan harga yang sesuai dengan situasi dan kondisi tersebut dan seharusnya tidak rugi kecuali mereka memang tidak menguasai strategi harga tersebut.

Kebanyakan UMKM Tidak Proaktif dan Komunikatif Dengan Pihak Retail Modern.

Fakta lain yang sering kami temui di lapangan adalah UMKM tidak proaktif bertanya dan berkomunikasi dengan pihak retail modern tentang prosedur memasok dan tata cara penagihan yang diberlakukan. Hal-hal semacam ini seringkali yang menjadikan kendala dalam pembayaran di retail modern.

Ketika hal ini kami konfirmasikan dengan vendor dan supplier yang sudah lama bekerjasama dengan retail modern, kiat sukses mereka adalah dengan cara menjalin hubungan yang baik dengan pihak buyer dari retail modern tersebut.

Kebanyakan UMKM Tidak Tahu Bahwa Produk Mereka Bukan Produk Fast Moving.

Sudah sering disinggung oleh para buyer retail modern ketika kami pertemukan dengan para pelaku UMKM. Mereka mencari produk UKMM yang fast moving, atau yang perputarannya cepat atau yang paling banyak dibutuhkan oleh masyarakat. 

Tetapi karena kurang jelas dan memahami hal tersebut, maka seringkali UMKM tidak mau memahami bahwa produk mereka tidak cocok untuk retail modern tersebut karena bukan produk fast moving dan tetap memaksakan diri untuk masuk retail modern. Hal inilah yang sering memicu pengalaman buruk mereka dengan menjadi vendor dan supplier retail modern.

Demikian apa yang bisa kami sharing untuk teman-teman UMKM Yang berkeinginan jadi vendor dan supplier retail modern. Sukses!