Laman

  • Home

Kamis, 01 Juni 2017

Batik 3D, Waktu Pengerjaannya Bisa 3 Tahun dan Pasarnya Adalah Kolektor.

Batik 3D hadir dalam ajang KRENOVA 2017
Ini adalah karya seni, bukan sebuah teknologi. Tetapi harus diakui bahwa karya batik 3D ini perlu mendapatkan appresiasi tersendiri sebagai pengembangan karya baitk dari sisi seni. Adalah Mas Haris Legenda bersama dengan Mas Eko Ganang Permana dari Kota Pekalongan yang mengembangkan karya batik yang sangat rumit dan "njlimet" ini.

Hal inilah yang menggelitik kami untuk bertanya berapa lama waktu pengerjaannya, dan dijawab oleh Mas Haris Legenda yang mewakilinya bahwa batik tersebut rata-rata dikerjakan dalam waktu 2 - 3 tahun ! 

Sebuah proses panjang untuk  menyelesaikan sebuah karya batik yang luar biasa ini, tetapi ketika kami mendengar bahwa harga karya batik 3D yang bisa mencapai Rp 350 juta per helai mungkin pengorbanan selama 3 tahun tersebut cukup terbayarkan.

Lantas mengapa batik ini disebut dengan batik 3D ? Adalah karena batik ini dibuat bolak-balik dengan efek tembus. Detail menjadi hal yang sangat penting dalam desain batik 3D ini, sehingga menuntut pemakaian canting khusus, karena untuk batik ini lebih banyak "melukis" bukan cuma membatik.

Haris Legenda, Berasama Bappeda Kota Pekalongan
Mungkin ini adalah salah satu upaya dari para seniman batik dari kota Pekalongan untuk "menghindarkan" diri dari penjiplakan batik yang banyak dilakukan oleh para produsen batik dari luar kota Pekalongan. 

Ada yang lebih hebat dari batik 3D ini, karena ternyata apa yang dilukis di atasnya adalah sebuah cerita bersambung dari sebuah lakon yang digambarkannya. Sehingga kalau dicermati ternyata sehelai batik ini merupakan sebuah buku cerita dari lakon yang disajikannya. Itulah sebabnya batik ini hanya cocok untuk para kolektor batik tingkat atas.

Memperhatikan detail batik 3D yang belum 100% selesai.

Detail itulah yang menjadi keunggulan dari batik 3D ini.
Karya batik sebagai warisan leluhur memang harus terus dilestarikan, dan upaya dari beberapa seniman batik di kota Pekalongan yang mengibarkan batik 3D ini perlu mendapatkan dukuungan dari pemerintah. Pemasaran batik ini memang sangat khusus, karena pasarnya begitu sempit dan produksinya masih sangat langka, tetapi karya batik ini benar-benar membuat "tempat" sendiri dalam pasarnya.

Baca juga: