Laman

  • Home

Sabtu, 24 Oktober 2015

UMKM Bukan Superman

Pembinaan dan pengembangan UMKM yang ada selama ini seolah mengarah kepada membuat UMKM menjadi superman, mampu memproduksi, mampu memasarkannya sendiri dan mampu membangun brandnya sendiri. Program-program pembinaan sepertinya melupakan banyaknya keterbatasan para pelaku UMKM untuk bisa malakukan fungsi-fungsi itu semua.

Seperti diketahui, fungsi produksi, pemasaran dan promosi di bisnis skala UMKM masih sering dipegang oleh pemilik usaha itu sendiri. Memang benar mereka perlu belajar pemasaran dan promosi tapi tidak menjadi keharusan bahwa mereka harus melakukannya sendiri sampai kewajibannya sebagai produsen terlupakan. Kewajiban produsen adalah memberikan jaminan kualitas dan konsitensinya kepada pelanggan, jamina kapasitas produksi dan juga kontinuitas supply, di samping itu produsen harus memenuhi legalitas usaha dan sertifikasi produknya.

UMKM Bukan Superman
Mungkin ada sebagian UMKM yang mampu melakukan semua dengan berhasil, tetapi pada kenyataannya banyak UMKM menjadi kebingungan membagi fokus. Seringkali kualitas produk terabaikan oleh kesibukannya melakukan pemasaran. Tapi bukan berarti bahwa UMKM tidak boleh melakukan hal itu semua, semua bisa dilakukan ketika memang UMKM tersebut sudah mapan dengan produksinya dan memiliki SDM yang bisa diberikan tanggung jawab terhadap salah satu fungsi produksi atau pemasaran.

Dari sisi pembina dan penggiat UMKM sendiri, harus mulai jeli melihat kemampuan dan potensi dari UMKM yang dibinanya. Penggiat UMKM harus memberikan pengertian bahwa UMKM produsen harus fokus terhadap produk dan produksi, dan selanjutnya mereka akan bermitra dengan UMKM pemasar (pedagang) untuk pemasaran produknya.

Untuk saat ini UMKM pemasar belum mendapatkan porsi pembinaan dari instansi pemerintah dan asosiasi, padahal mereka memiliki fungsi dan andil yang sangat penting dalam pemasaran produk UMKM. Pedagang ini bisa berarti pedangan konvensional maupun pedagang online.

Saat ini Rumah UMKM sedang menggandeng komunitas pedagang konvensional dan pedagang online guna meringankan beban pemasaran produk yang ada di pundak UMKM produsen. Semua harus berjalan selaras, jangan sampai pembinaan yang berjalan sekarang ini mengabaikan "keberadaan" para pedagang dalam struktur bisnis yang ada di Indonesia ini. Pelatihan pemasaran yang dilakukan seolah mengabaikan adanya pedagang, karena UMKM produsen diajarkan bagaimana memasarkan produknya sendiri kepada end user.

Kami berharap mulai saat ini pembinaan kepada pedagang sebagai pendukung pemasaran produk UMKM juga ikut disentuh, karena keberadaan mereka sangat penting. Bukankah perdagangan di pasar tradisional lebih didominasi para pedagang ?